Who is Ian Brown?!” bisik seorang turis asing sambil menatap selembar banner konser yang terpampang di depannya. “Ngngng, I don’t know yet…” sahut temannya, seorang perempuan bule yang juga ikut mengamati banner tersebut dengan raut wajah penasaran.

Begitulah cuplikan adegan yang sering terjadi di depan pelataran Hard Rock Café, Kuta Bali, 07 Agustus lalu. Berkali-kali para wisatawan berhenti sejenak untuk mengamati banner dengan kening berkerut dan penuh tanda tanya tentang siapa lelaki kulit putih bernama Ian Brown yang berani ‘mengganggu’ akhir pekan mereka.

 

Bagaimana tidak, banyak pelancong yang batal untuk menghabiskan malam berakhir pekan mereka di Hard Rock Café karena tempat tersebut dipakai sebagai venue konser Ian Brown. Belum lagi deretan banner dan neon box yang memampang publikasi konser juga ikut bertebaran di sepanjang trotoar depan venue. Pertanda memang ada hajatan spesial di Hard Rock Café malam itu.

Tapi uniknya, tidak sedikit yang justru berhenti dan berfoto sejenak dengan latar belakang banner konser. Setelah puas berfoto, mereka lalu melanjutkan jalan kaki di sekitar Kuta atau mencari club lain untuk menghabiskan akhir pekan. Pastinya bersama sebuah pertanyaan kecil yang selalu menghantui benak mereka, “Who is Ian Brown, anyway?!…”

Ian Brown [47 tahun] adalah mantan vokalis grup band The Stone Roses, pionir madchester sound yang cukup kesohor di era awal 90-an. Setelah band-nya bubar di tahun 1996, Ian Brown memilih untuk bersolo karir dan telah merilis enam album hingga sekarang. Musisi yang pernah menjadi cameo untuk film Harry Potter and the Prisoner of Azkaban itu sempat diganjar penghargaan Godlike Genius Award oleh majalah NME [2006] dan Legend Award oleh majalah Q [2007]. Dia juga disebut-sebut memiliki pengaruh besar dalam industri musik BritPop, serta menjadi inspirasi bagi Oasis, The Verve, Coldplay, The Charlatans, Arctic Monkeys, dan masih banyak lagi. And yes, he’s already a legend.

Oke, terus terang saya sebenarnya bukan pemuja Ian Brown. Kalau bukan karena pasangan saya yang ngotot mengajak berangkat, belum tentu saya bisa ada di Bali waktu itu. Pasangan saya ini memang mengaku kalau Ian Brown – bersama The Stone Roses – telah menginspirasi hidupnya di akhir dekade 90-an dulu. Jadi, menonton Ian Brown adalah sebuah kewajiban baginya. Dan bagi saya adalah sebuah kehormatan serta kewajiban untuk menemaninya ‘beribadah’ di sana. Apalagi, saya juga dibikin penasaran dengan desas-desus bahwa aksi Ian Brown yang selalu ‘menggila’ di atas panggung.

Sabtu malam itu adalah konser kedua Ian Brown di Indonesia – setelah sehari sebelumnya menghajar publik Jakarta bersama Kula Shaker. Meski diguyur hujan, kabarnya show mereka di ibukota cukup meriah didatangi oleh ribuan penonton. Sedangkan pertunjukan di Hard Rock Café ini ibarat sebuah additional show, karena kabarnya Ian Brown yang ngotot ingin berlibur di Bali dalam rangkaian tour-nya di Indonesia.

Pintu masuk venue dibuka sekitar pukul sembilan malam bersamaan dengan prosesi penukaran tiket presale. Hampir seluruh meja yang tersedia di dalam Hard Rock Café telah berstatus ‘reserved’ alias sudah di-booking sebelumnya. Kabar buruknya, Navicula yang rencananya didapuk sebagai opening act terpaksa batal tampil karena masalah tehnis dan mis-komunikasi. Akhirnya crowd pun mesti menunggu lebih lama lagi untuk menikmati sajian live music dari atas stage.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Ian Brown dkk naik panggung untuk memulai aksinya. Untung saya sudah mendapat bocoran setlist dari konser mereka sebelumnya di Jakarta. Biasanya tidak akan banyak berubah. Ternyata benar, lagu klasik milik The Stone Roses berjudul I Wanna Be Adored tetap jadi nomor pembuka. Mungkin Ian Brown cukup tahu diri, ia musti menyapa fans dengan sebuah hits lawas yang sudah populer untuk merangsang tensi konsernya.

Trik itu terbukti, sekitar 300-an kepala menyambut girang. Sebagian turun meninggalkan mejanya dan merangsek maju ke bibir stage. Lantai dansa sontak menjadi sesak dan penuh gelombang. Para penonton sangat mengenal lagu itu dan ikut bernyanyi bersama. Bahkan seorang perempuan berteriak-teriak histeris sambil memamerkan kaos The Stone Roses-nya kepada Ian Brown yang tampak sibuk memimpin refrain pengkultusan masal dari atas panggung.

I wanna, I wanna, I wanna be adored…

I wanna, I wanna, I gotta be adored…

I wanna be adored…

Jika diamati, wajah-wajah asing alias bule tampak sangat mendominasi kondisi demografi penonton malam itu. Boleh dibilang hanya sedikit wajah pribumi yang hadir. Itu pun kalau didengar dari logat bicara sepertinya mereka datang dari Jakarta, bukan warga Bali. Entah situasi ini terbilang cukup wajar atau tidak. Mungkin ada dampak dari tidak tampilnya Navicula sebagai pembuka, atau konser ini musti bersaing dengan pertunjukan Godbless yang berlangsung di Denpasar dalam waktu berbarengan. Entahlah. Saya justru merasa sedang menonton konser di luar negeri saat itu.

Kembali ke stage, Ian Brown terlihat cukup cakap dan komunikatif. Mungkin karena banyak wajah-wajah bule, dia jadi lebih doyan bicara dan banyak berdialog dengan penonton. Sesekali ia berusaha keras untuk mengucapkan kalimat ‘terima kasih’ secara terbata-bata dengan aksen Inggris yang kental di setiap jeda lagu. Selebihnya ia sangat percaya diri memainkan gestur tubuh dan memamerkan gaya dansanya yang fenomenal. Jelas hal itu sangat mengintimidasi crowd untuk terus bergoyang dan bersenang-senang di areal dance floor.

Pria yang dijuluki The King Monkey ini berkali-kali mengalungkan kabel mic di lehernya agar lebih bebas untuk bergerak. Kadang ia usil memainkan mimik muka bandelnya, bergaya kungfu ala Bruce Lee, atau berjoget jenaka menirukan gerakan monyet. Yah, untuk semua itu, dia tetap menjadi seorang pedansa yang ulung dan sangat menghibur.

Selain Ian Brown, sang pedansa ulung malam itu adalah seorang gadis bule berambut mohawk yang terus menggila di dance floor. Dia cukup mencuri perhatian penonton di sekitarnya. Perempuan manis dengan banyak tato di sekujur tubuhnya itu bergoyang seperti tidak ada hari esok di sepanjang konser. Dia bahkan tanpa perlu ikut bernyanyi dan hampir tidak pernah melihat panggung. Saya curiga, mungkin dia memang tidak terlalu mengenal Ian Brown dan lagu-lagunya. Namun dia tak peduli. Sepertinya dia hanya ingin datang, berdansa, dan bersenang-senang sepanjang malam itu. That’s cool!…

Terpujilah ukuran panggung yang mini dan pendek, serta tanpa barikade apapun. Nyaris tidak ada jarak antara musisi dan penonton. Begitu dekat, cair dan hangat. Bahkan banyak penonton di garda terdepan yang berhasil mencolek tubuh, menarik celana, atau bahkan mencubit kaki Ian Brown. Sungguh intim atmosfir konser pada malam itu.

Tiba-tiba di tengah konser, seorang lelaki bule berwajah bengal yang memakai kaos logo Obey Giant nekat memaksa naik dan duduk di atas stage. Jelas dia tidak beruntung dan dianggap kurang ajar. Pemuda itu langsung diusir turun sambil ditendang pelan oleh Ian Brown yang memasang raut sebal. Menegaskan bahwa jangan pernah sekali-kali merebut singgasana kekuasaan sang raja monyet…

Ian Brown dkk terus memainkan materi solonya, seperti Golden Gaze, Longsight M13, atau Marathon Man. Secara musikal, memang sangat berbeda dengan komposisi madchester ala The Stone Roses. Lagu-lagu solonya sekarang terdengar lebih upbeat, groovy, dan danceable. Banyak unsur sampling dan bunyi-bunyian aneh dari berbagai jenis instrumen, seperti perkusi dan trompet. Ian Brown seperti ingin mempertemukan kontradiksi di antara gagahnya rock dan geliat musik dance – plus pendekatan pada unsur disco, funk, hip-hop, serta black music.

Sementara di sudut kanan stage terlihat wajah familiar yang selalu bergoyang dan bernyanyi sambil terus mengacungkan maraca-nya. Dia tampak khusyuk seperti sedang bertemu dan menyembah ‘tuhan’-nya. Hal yang wajar, karena pemuda itu konon sangat mengidolakan Ian Brown serta memiliki band yang terinspirasi kental oleh The Stone Roses.

Ya, saya sedang membicarakan sosok Wahyu ‘Acum’ Nugroho, frontman dari grup band Bangkutaman. Dia rela menonton dua konser Ian Brown di Indonesia, bahkan konon menginap di hotel yang sama di Bali. “Kalo kemarin aku emang tugas ngeliput konsernya di Jakarta. Tapi kalo sekarang aku emang niat untuk senang-senang dan liburan,” katanya dengan wajah sumringah saat saya temui di depan venue, sesaat setelah konser berakhir.

Sementara aksi Ian Brown terus memanas di atas panggung. Dia cukup percaya diri dengan suara fals-nya dan masih setia memegang tamborin. Sedangkan personil lainnya tampak lebih tenang dan serius memainkan perangkatnya masing-masing. Hanya perkusionis berwajah India yang tampil agresif dan sangat mencuri perhatian. Dia cukup terampil dan penuh semangat memainkan set perkusinya. Bayangkan seorang Sikh yang terus menjaga tempo dan beat musik layaknya seorang dirigen bagi Ian Brown dkk. Seperti pertapa Hindustan yang sedang menghipnotis ular-ular kobra untuk tetap menari di sepanjang konser.

Tiba-tiba sepotong kaos jersey Manchester United FC berwarna merah dilempar ke atas panggung oleh seorang penonton. Ian Brown lalu memungutnya, melihat sebentar, menunjukkan kaos itu kepada penonton dengan mimik muka yang aneh, dan langsung melemparkannya kembali ke tengah crowd. Ini menarik, sebab menurut informasi memang Ian Brown termasuk penggemar klub sepakbola berjuluk Setan Merah tersebut.

Kejutan lain hadir saat seorang perempuan berkulit hitam tiba-tiba naik ke atas panggung dan berjoget liar di hadapan penonton. Nasibnya ternyata jauh lebih baik daripada pria bule brengsek yang naik stage sebelumnya. Ian Brown hanya tersenyum dan justru membiarkan perempuan itu berdansa sejenak bersamanya. Penonton juga turut menyambut riuh aksi perempuan nekat itu. What’s a lucky girl…

Setelah lagu F.E.A.R, Ian Brown dkk pamit menuju backstage. Namun penonton tahu itu hanya trik belaka. Tidak ada konser yang sempurna jika tanpa encore. Tanpa dikomando, crowd pun berteriak, “We want more! We want more!” Sampai akhirnya Ian Brown dkk benar-benar kembali ke stage untuk melanjutkan ritual penutupnya.

Sederet tembang kembali dinyanyikan dalam sesi penutup. Diawali dengan Stellify, yang kemudian disambung dengan Just Like You. Sebagai pamungkas adalah Fool’s Gold, hits lama milik The Stone Roses yang juga masih akrab di telinga crowd. Otomatis sing-along kembali bergema…

I’m standing alone, I’m watching you all, I’m seeing you sinking

I’m standing alone, You’re weighing the gold, I’m watching you sinking

Fool’s gold…

Genap sudah setlist berisi total delapan belas lagu, termasuk dua hits milik The Stone Roses sebagai pembuka dan penutup konser. Kabarnya ini sama persis dengan setlist mereka di Jakarta, sehari sebelumnya. Konser pun berakhir tenang dengan pencapaian yang cukup klimaks.

Malam sudah menyapa dini hari di Kuta, penonton mulai keluar untuk sekedar nongkrong mencari angin atau berfoto-foto di depan venue. Sebagian besar terduduk dengan wajah lelah dan senyum puas. Dini hari itu juga masih ramai turis asing yang lalu-lalang di trotoar jalan. Mereka masih saja memperlambat langkahnya di depan Hard Rock Café sambil menatap serius pada banner yang terpasang. Mengerutkan kening, lalu berbisik pelan kepada teman di sebelahnya, “Who is Ian Brown?!…”

Setlist ; I Wanna Be Adored / Time Is My Everything / Crowning / Golden Gaze / Love Like A Fountain / Dolphins Were Monkeys / Save Us / Keep What You Got / Vanity Kills / Own Brain / Corpses In Their Mouth / Longsight M13 / Marathon Man / Sister Rose / F.E.A.R / Stellify / Just Like You / Fool’s Gold

*Artikel ini dimuat di situs Jakartabeat.net