@CGzine #25

Sudah minum kopi hari ini? Haha, apa kabar? Sehat?

Tentunya. Sampai siang ini udah dua gelas malahan, dan itu artinya saya masih sehat serta baik-baik saja, haha.

Wokee, straight to the point. Samack dan kopi. Sepertinya sudah seperti sahabat lama karena frekuensi kopi anda yang sangat tinggi. Ada referensi tempat ngopi yang sip ga di Malang?

Yah, bisa dibilang begitu. Saya dan kopi sudah akrab sejak lama. Kalo spot ngopi favorit saya itu di kopian Sumbersari, Citraland UB, Legipait, dan Kedai Sinau. Itu lebih ke suasananya sih, bisa ngumpul dan ngobrol sama kawan-kawan. Vibe-nya di sana cukup mendukung, kalo soal rasa itu selera. Teysa’s, Und Corner, Java Dancer, atau café/warkop lainnya di Malang juga bisa asik kok, asal momennya ‘dapet’.

Masih tentang kopi, racikan kopi yang sip menurut Samack itu yang gimana? Plus cara menikmati kopi yang afdol…

Untuk gelas ukuran standar, saya biasanya pake 2 sendok kopi bubuk plus 1 sendok gula. Rasionya selalu dua banding satu lah. Ini masalah selera juga sih ya. Namun syarat utamanya kalo ngopi itu kudu ada rokok, musik, plus kawan dan sahabat. Atau sambil membaca atau nonton DVD kalo lagi sendirian di rumah.

Selain sebagai pencinta kopi, banyak yg belum tau kalo Samack adalah individu pencinta alam yang fasih dalam mengelola bisnis outbound. Bisa cerita sedikit tentang aktivitas ini?

Yah, itu adalah hobi yang ternyata kadang-kadang jadi kerjaan juga. Awalnya saya suka dunia petualangan seperti kemping atau naik gunung. Pas SD pernah ikut pramuka, trus pas SMA saya mulai ikut organisasi pencinta alam [Kompas 7, sman 7 Malang], lalu gabung di Impala Unibraw pas kuliah sampe sekarang. Agak terinspirasi dari serial Balada Si Roy-nya Gola Gong dan kisah Soe Hok Gie juga tampaknya. Sejak dulu petualangan itu khan terkesan keren dan jantan. Rock n’ roll sekali, haha. Dari hobi petualangan itu akhirnya terlibat dalam kegiatan outbound, trip guiding, atau event-event alam bebas lainnya. Lumayan, kadang ada pemasukan untuk ngopi, atau beli CD dan buku, haha.

Mendaki gunung, adalah salah satu hobi yang sangat laki-laki menurut saya. Gunung tertinggi yang pernah Anda daki apa?

Ah, saya sekarang justru jarang naik gunung sih sebenarnya, lebih sering kemping di kakinya, hehe. Tapi beruntung saya tinggal di kota Malang, jadi saya bisa langsung beberapa kali naik ke Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Jawa. Selebihnya cuma naik gunung-gunung di Jawa Timur aja kok. Belakangan ini, saya lebih sering jalan-jalan atau cuma traveling aja sih.

Kalo kegiatan alam yang paling menantang yang pernah Anda alami?

Semuanya menantang, punya cerita dan pengalaman tersendiri. Saya pernah coba naik gunung, masuk hutan, arung jeram, penelusuran gua, sampai panjat tebing. Semuanya seru. Pas kuliah, kegiatan saya lebih banyak di penelusuran gua [caving]. Yang paling berkesan itu pas riset biota gua di Tuban, trip lintas Borneo, trip NTT, dan trip keliling Taman Nasional di Jawa Timur. Semua kegiatan di alam bebas itu selalu fun dan seru kok. Malah berkendara di jalan raya itu yang menurut saya lebih ekstrim dan berbahaya!…

Tentang jurnalisme, menurut Samack, seberapa besar sih pengaruh majalah lokal terhadap perkembangan scene lokal?

Pengaruhnya jelas besar. Apalagi anak muda sekarang cenderung percaya pada apa yang ada di media, apapun. Kudunya media gak sekedar merekam momen budaya scene lokal semata, itu akan terkesan ikut arus dan trend saja. Tapi juga kudu jeli menangkap detil, esensi serta ikut serta membentuk mindset pembacanya, agar scene-nya ikut bergerak lebih kreatif, produktif dan cerdas.

Apa dorongan terkuat Anda, sehingga Anda masih menulis hingga saat ini?

Passion. Sama halnya dengan ngopi, membaca, mendengarkan musik, nonton konser, traveling, atau futsal.

Banyak band yang sudah Samack interview, mana yang paling memiliki kesan mendalam?

Mewawancarai Seringai itu seru. Mereka cerdik dalam mejawab pertanyaan, dan selalu quotable. Maklum Arian dkk punya latar belakang jurnalis juga ya. Kalo sama Ebenz [Burgerkill] juga asik, dia cukup detil kalo cerita. Cholil [Efek Rumah Kaca] lebih humble dan sederhana, tapi jawabannya cerdas dan mengena. Begitu juga sesi interview sama Aryev Gobel [Rotten Corpse/Rottenomicon], Afril dan Yuda [Extreme Decay], serta Didit [No Man’s Land] juga selalu berjalan seru. Terkadang menemui musisi dengan topik obrolan tertentu juga menarik kok. Saya malah banyak ngobrol soal sepakbola dan Liga Inggris sama Mark Barney Greenway dan Shane Embury [Napalm Death] di Jakarta. Tentang bir dan kuliner kalo sama Totok Tewel [Elpamas]. Kisah-kisah scene rock lawas sama Donny Fattah [Godbless] dan Jaya [Roxx]. Topik petualangan dan pemberontakan anak muda kalo sama Addy Gembel [Forgotten]. Soal binatang dan taman safari ama personil The Exploited. Dulu juga pernah wawancara Agus [Sacrilegious] tentang musik black metal dan konsep ketuhanan, hasilnya serem sekali sampai saya gak berani memuatnya waktu itu, haha.

Sekitar era 90-an, Samack pernah menerbitkan zine, Mindblast ya kalo ga salah. Lalu era 2000-an menerbitkan webzine fenomenal, Apokalip. Nah, keinginan menerbitkan media apa lagi di era baru ini?

Akh tidak! Ternyata capek juga mengelola manajerial media, hehe. Sekarang saya cukup nulis dan jadi kontributor di beberapa media. Biar lebih fokus juga untuk menulis sih. Lagian media sekarang juga udah banyak, independen maupun mainstream, cetak maupun online. Justru profesi penulis dan jurnalis musiknya yang masih kurang. Belakangan ini, saya mulai rancang program lagi di bawah institusi Solidrock, sambil membantu proyek Megavoid [situs arsip scene cadas lokal] dan Stereotype [program hiburan televisi lokal]. Impian lainnya, pengen bikin program radio atau nerbitin buku. Suatu saat nanti, haha…

Dari desas-desus teman-teman nih, Samack pernah ditawari pekerjaan oleh salah satu media nasional, apa alasan anda menolak?

Simpel, karena saya gak betah kalo disuruh tinggal di Jakarta, haha. Selain karena udah banyak kegiatan di Malang juga sih. Dulu sempet pengen bisa kerja pada industri media di Jakarta, tapi sekarang udah gak lagi. Sudah terlalu betah di Malang, hehe.

Sedikit ramal-meramal, band Malang apa yang menurut Anda tahun 2012 ini akan menonjol?

Saat ini, saya lihat Snickers And The Chicken Fighter [SATCF] mulai berlari kencang. Mereka bikin album, manggung dan tour, juga bisa menjaga fanbase-nya. Rottenomicon juga bahaya. Mereka akan manggung di Bandung Berisik dan sepertinya akan dapat respon positif, seperti Rotten Corpse di tahun 1996 dulu. Screaming Factor lagi rekaman di Jakarta, dan itu patut ditunggu karyanya. Progres musiknya cukup tajam. Peka pun comeback dengan singelnya yang apik. Band-band di Malang itu sebenarnya keren-keren, musically. Saya juga terus mengamati Lolyta and The Disgusting Trouble, Kobra, Sharkbite, Knee and Toes, Nadi, dan Take This Life. Musikalitas mereka apik dan keren. Juga punya visi dan konsep yang jelas. Tinggal dikemas dalam manajemen dan marketing yang cakep, band-band tadi pasti bisa lebih berkembang dan menonjol lagi hingga ke luar Malang. Saya selalu suka pada band yang mau kerja keras, nekat dan produktif.

Scene musik Malang adalah scene yang sangat dinamis. Apa pendapat Samack tentang scene musik Malang saat ini?

Sambil jalan-jalan dan beberapa kali mengamati scene kota lain, saya pikir infrastrukturnya di Malang itu sudah cukup kuat loh. Media independen makin banyak dan variatif, belum lagi radio lokal dan online. Event musik [konser/gigs/showcase] bisa dibilang terlalu banyak, kadang sampe 2-3 kali seminggu atau bahkan bisa barengan di hari yang sama. Studio rekaman tersedia dan cukup terjangkau. Berbagai komunitas, spot dan squat yang siap bantu kalo mau bikin event atau program apapun. Demografi anak muda di kota ini juga cukup mendukung dan jumlahnya banyak. Belum lagi kisah klasik, histori dan aura ‘Malang Rock City’ yang masih menggetarkan bagi sebagian orang. Itu artinya syarat-syarat utama untuk memajukan scene musik lokal sebenarnya sudah tersedia komplit. Kudunya gerak band/musisi lokal jadi lebih mudah dan menjanjikan dong. Sebab sejujurnya, tidak semua kota/scene senyaman seperti di Malang. Di Bandung, band masih susah untuk manggung atau bikin pertunjukan karena kendala ijin. Di Surabaya, Solo dan Jogja, pertumbuhan gigs serta media indie juga rasanya tidak semasif di sini. Nah, jadi sebaiknya jangan malas, manja, galau atau mengeluh lagi hari ini. Kalau ingin dilirik oleh masyarakat nasional, band yang berkualitas atau pertunjukan musik yang akbar kudu segera muncul dari kota ini…

Oke last words! Spank me! Hahahaha😀

Lha trus, mana ini kopinya? Oke, beer pun tak masalah…

*Ini adalah skrip interview saya bersama Norman HS dan dimuat pada Common Ground Zine edisi #25. Thanks!🙂