Selamat datang di zaman paska logam. Era di mana musik metal sudah semakin tendesius dan mulai bergabung dengan kata kunci; eksperimental, atmosferik, serta avant garde. Seperti salah satu CD anyar yang baru masuk menjadi keluarga besar koleksi rekaman di rak saya, yaitu album split dari Ghaust/Aseethe rilisan dari Cactus Records [Malaysia].

Suguhan awal adalah Ghaust dari Jakarta. Oh, akhir-akhir ini mereka memang tergolong produktif dalam berkarya. Band yang digawangi oleh demonic duo, Uri Putra dan M Edward, ini seperti dikejar hantu untuk terus merilis sejumlah proyek album kolaborasi dalam format CD maupun piringan hitam melalui berbagai label asing. Yah, ini sangat bagus sekali, dan layak untuk dicontoh.

 

Dibuka oleh Return Fire, singel terbaru yang lebih keras, padat dan kaya-rasa dibandingkan dengan materi mereka sebelumnya. Riffing gitarnya cukup heavy dan menendang telinga. Sendi-sendi sound metal malah dipaksa keluar dari gerusan gitar milik Uri Putra. Di belakangnya, sang drummer tampil gagah menjelajahi seluruh set beduk dan perkusi yang ada. Bahkan, M Edward seperti berada di tengah sesi latihan marching band ala militer. Rancak, ritmik, dan playful. Ini bukti bahwa post-metal juga bisa berdandan lebih groovy dari biasanya. Tapi tolong, jangan lalu dipaksakan untuk berdansa.

Lagu ini juga diselipi unsur psikedelia dalam dosis yang ringan. Dampaknya jadi terdengar agak nyaman di telinga. Ibarat jamu, yang ini ada rasa manis-manisnya. Mereka yang suka Isis atau Pelican akan cukup terhibur menikmati Return Fire. Musik yang berat? Ah, kalau itu sih relatif. Saya rasa, lagu ini tidak akan jadi mimpi buruk dan tergolong aman untuk dikonsumsi oleh siapa saja.

Track kedua adalah Akasia RMX, lagu lama yang digubah ulang oleh Morgue Vanguard [Homicide/TriggerMortis]. Mendengarkan tembang ini saya seperti terjebak dalam badai distorsi dan hujan feedback yang dahsyat. Plus banjir bunyi elektronik di mana-mana. Musti sabar, karena yang ini berdurasi 10 menit lebih.

Karya re-interpretasi Akasia RMX ini memang agak melelahkan. Ibaratnya, ini komposisi apokaliptik yang sudah didesain ulang secara mekanis. Mungkin itu ada pengaruh dari latar belakang musik hip-hop dan elektronik yang dikuasai oleh si tukang remix. Jika ada adegan perang bintang dalam sebuah film fiksi ilmiah kelas B, maka lagu ini mungkin cocok dipasang sebagai soundtrack-nya.

Seperti biasanya, Ghaust hanya perlu mengkreasi bunyi-bunyian tanpa kalimat untuk mengungkapkan betapa anehnya hidup, dan begitu menyebalkannya kondisi dunia. Seakan-akan tak perlu lagi kata-kata bijak berbuih pesan, argumen, atau statemen yang sudah banyak disuarakan oleh band atau genre musik lain. Mereka justru memilih untuk mengunci mulut, membisu sambil terus memainkan instrumennya. Diam itu emas, frase itu tampaknya sangat berlaku bagi mereka.

Pendamping Ghaust dalam album ini adalah Aseethe, kelompok musik asal Iowa, Amerika Serikat. Tidak banyak yang bisa diketahui dari kiprah mereka, kecuali band ini dikendalikan oleh trio yang sudah tiga kali merilis album split dengan berbagai musisi sejenis. Selebihnya, band ini cukup underrated dan mungkin lebih banyak tinggal di pengasingan. Who knows?!…

Di sini Aseethe hanya menyodorkan satu tembang bercorak doom/sludge yang bertajuk The Armada. Masih dengan sound keras, namun dalam tempo yang sangat lambat. Tembang berdurasi 20 menitan ini seperti memiliki banyak layer. Seakan menumpuk tiga sampai lima lagu berbeda corak menjadi satu komposisi yang utuh.

Di lagu ini kita akan menemui suara vokal yang depresif – dalam aksen growling maupun clean. Sekilas musik mereka agak mengingatkan saya kepada Mindrot, band doom lawas yang juga gemar bermain lamban, penuh amarah dan kesal.

Satu nilai jual dari The Armada adalah bahwa lagu ini di-mastering oleh James Plotkin, produser legendaris di balik karya Earth, Sunn O))), Khanate, Isis, serta berbagai proyek klasik di genre metal/industrial. Sialan, jelas agak susah untuk dibantah kualitasnya jika materi lagu ini sudah jatuh ke tangan yang benar, dingin dan midas. Amini saja hasilnya, toh kita juga tidak akan pernah mendengarkan kualitas mastering The Armada dalam versi Indra Lesmana atau Eki Humania, misalnya.

Well, memang hanya dua band, tiga lagu, dan 41 menit. Tapi percayalah, itu sudah sangat menyiksa. Tapi kalau telinga anda sudah terbuai nyaman, mungkin akan selalu merasa kurang. Jadi, memutarnya kembali akan jadi pilihan bijak untuk mendapatkan pengalaman serta interpretasi yang berbeda.bagi sebagian orang, termasuk saya, mendengarkan jenis musik seperti ini ibarat sebuah petualangan. It’s not about the destination, it’s about the journey…

 *Artikel ini dimuat di situs Jakartabeat.net