ROCK IN SOLO ***1/2

Alun Alun Lor Solo, 17 September 2011

photo by solopos.com

“Rock In Solo ini bukan cuma acara untuk kota Solo, tapi juga untuk Indonesia!” seru vokalis Down For Life, Stephanus Adjie, kepada sekitar 8000 kepala yang memadati pelataran Alun-Alun Lor Solo, 17 September 2011. Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan impian panitia penyelenggara bahwa mereka memang nekat ingin menciptakan Wacken Open Air versi Indonesia yang sempat diutarakan dalam press conference Rock In Solo di hotel The Sunan, sehari sebelumnya. “Festival musik ini buktinya bisa berjalan tanpa dukungan sponsor korporat. Bagi kami selaku panitia, semua metalhead se-Indonesia lah yang menjadi sponsor acara ini,” tutur Adjie dengan mantap dan penuh percaya diri.

Venue berupa alun-alun yang berada di kompleks kesultanan Solo ini terbilang cukup sakral, karena biasanya hanya dipergunakan untuk kegiatan budaya tradisional. Namun hari itu segalanya menjadi berubah, tanah sakral dengan sepasang pohon beringin yang berusia ratusan tahun itu menjadi lahan pertunjukan musik cadas. Konon kabarnya juga bahwa festival musik ini bakal diabadikan dalam bentuk video dokumenter oleh sutradara/videographer handal tingkat nasional. Dukungan dari pemerintah setempat terhadap event ini juga tampaknya cukup baik dan tidak setengah-setengah.

Rock In Solo hari itu dibagi menjadi empat panggung ; Stage A, B, C dan D yang disebar di empat penjuru venue. Di tengah areal venue, berjajar berbagai booth yang menyediakan dagangan merchandises, makanan dan minuman dengan harga yang cukup terjangkau. Ribuan penonton sedari pagi sudah memadati kawasan venue. Mereka tidak hanya datang dari Solo, Semarang, Jogja atau Jawa Tengah saja – melainkan banyak juga rombongan yang datang dari Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Bali, bahkan Makasar. Ini tampak seperti halal-bihalal para metalheads pasca lebaran.

Sejak siang bolong, festival musik tahunan ini sudah digeber kencang dan tidak berhenti. Stage D dihuni oleh band-band lokal hasil polling para fans dan metalheads melalui Twitter @RockInSolo2011. Kebanyakan adalah band-band anyar yang diberi kesempatan untuk ikut merasakan aura cadas festival musik ini. Meski tidak terlalu ramai di sana, namun itu bisa menjadi pengalaman yang berharga bagi band-band lokal dan mampu memotivasi mereka untuk tumbuh serta berkembang di scene musiknya.

Sementara Stage B dan C menyalak secara bergantian seperti ajang estafet. Di dua panggung itu berisi sejumlah line-up berbahaya dari berbagai daerah, seperti Crucial Conflict [Surabaya], Suri [jakarta], Extreme Decay [Malang], Rajasinga [Bandung], Something Wrong [Jogja], Turbidity [Bandung], Gigantor [Jakarta], dan masih banyak lagi. Bahkan, sejumlah band asing seperti Ishtar [Korea Selatan], Enforce [Australia], dan Deranged [Swedia] juga ikut di-plot sebagai headliner di masing-masing panggung tersebut.

“Halo Indonesia, it’s great to be here. We’re already loved your country!” seru vokalis Ishtar, Binna, yang sore itu memakai gaun merah menyala dan tampak lebih mencolok dibanding personil lainnya yang berkostum hitam. Vokalis cantik itu tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih, bertutur santun, dan terus mengapresiasi hangat segala sambutan dari penonton. Sikap rendah hati mereka itu sepertinya wajar, sebab konon ini adalah show pertama mereka di luar negeri. Sebelumnya mereka hanya tampil di negaranya sendiri. Sore itu, Ishtar memainkan repertoire dari koleksi EP “Nothing Athrocity” dan album “Conquest” yang baru saja diluncurkan akhir bulan lalu. Musik berirama symphonic/gothic metal yang mereka alunkan pun tidak buruk, meski juga tidak terlalu istimewa. Sebagian penonton juga mungkin lebih menikmati paras cantik dua personil perempuan Ishtar yang memang mirip aktris film drama Korea itu.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, band metal asal Australia, Enforce, juga tampil sebagai pamungkas di Stage C. Band yang eksis sejak tahun 1997 dan telah merilis empat album ini tampil gahar memacu adrenalin crowd yang sedari tadi penasaran akan aksi kuartet metal asal negeri kanguru tersebut. Guy Bell dkk sempat terkendala tehnis pada sound gitar, namun akhirnya tertutupi pada pertengahan set mereka. Setelah itu, giliran Deranged yang tampil sebagai headliner di Stage B. Kelompok musik asal Swedia itu mengusung lagu-lagu death/grind yang intens. Menyuguhkan beat-beat yang keras dan cepat dalam balutan irama musik yang cukup old school. Meski hanya tampil bertiga, aksi Rikard Wermen dkk itu tampak cukup memuaskan dahaga para penggemarnya. Band yang reputasinya sudah cukup ‘cult’ di kalangan fans death metal itu menyajikan setlist dari album klasik “Rated-X” [1995] hingga materi rilisan terbaru “Cut Carve Rip Serve” [2011].

Impian panitia penyelenggara untuk menjadikan Rock In Solo sebagai momen budaya tampaknya diwakili oleh penampilan dari Drumband Keraton Solo. Pasukan drumband yang biasanya muncul di upacara tradisional Kesultanan Solo itu ini tampil dua kali, yaitu di kala break sore dan petang. Mereka berbaris dengan seragam khas Jawa Tengah sambil menabuh genderang serta meniup seruling dan terompet sambil memainkan beberapa mars tradisional. Aksi ini tak pelak cukup mencuri perhatian penonton, termasuk beberapa sosok bule yang ikut membaur di tengah areal venue.

Pada sesi malam, ribuan penonton mulai merapat dan bersatu di Stage A yang menjadi altar penampilan bagi para band headliner. Stage A tampak lebih besar ukurannya dan dilengkapi dengan layar multimedia. Kualitas sound systemnya pun konon lebih apik dan berdaya ledak lebih besar. Semua mata dan telinga tampaknya bakal terfokus menuju panggung raksasa tersebut.

Sekitar pukul tujuh malam, Oathen yang tampil pertama di panggung besar tersebut. Pengusung melodic metal asal Korea selatan itu menyuguhkan komposisi musik yang apik dan rapi. Di beberapa part bahkan terdengar cukup dramatis dan menyayat dengan imbuhan sampling alat musik tradisional Korea seperti Haegum dan Daegum. “Aksi kami malam ini sekaligus dalam rangka promo album terbaru Oathen di Indonesia. Semoga kalian terhibur menikmati sajian musik kami,” kata vokalis/gitaris, Kim Do Su, sebelum menutup penampilannya.

Setelah itu giliran sang tuan rumah beraksi. Down For Life mengajak fans mereka yang dijuluki Pasukan Babi Neraka untuk berkumpul dan bernyanyi bersama. Malam itu, Stephanus Adjie dkk menyuguhkan track dari album “Simponi Kebisingan Babi Neraka” plus beberapa materi lagu baru mereka yang terdengar lebih progresif dan penuh dengan asupan musik stoner rock. “Oke, siapa lagi yang pengen kalian tonton di Rock In Solo tahun depan?!” tantang Adjie kepada ribuan penonton. “Cherrybelle? 7icons? atau Irfan bachdim?” imbuhnya kemudian disambut tawa para penonton di barisan depan.

Lalu ada Burgerkill yang malam itu tampil menyala dengan seragam merah. Dalam aksinya kali ini mereka menggamit Adam Vladlamp [Koil] untuk mengisi sampling langsung dari atas panggung. Sejumlah nomor seperti Through The Shine, Shadow of Sorrow, Penjara Batin, dan Darah Hitam Kebencian mengalun deras ke telinga penonton. Gelombang moshpit mulai liar dan tak terkendali, apalagi di bagian refrain yang selalu lantang diikuti oleh koor dari penonton baris terdepan. Tampaknya Burgerkill juga fanbase yang cukup besar di Solo, mengingat mereka sendiri memang cukup rutin mengisi gelaran Rock In Solo dari tahun ke tahun.

Tepat di akhir set Burgerkill, hadir sosok Walikota Solo yang juga seorang metalhead, Joko Widodo. Dengan memakai kaos Lamb of God, beliau menepati janjinya untuk hadir menyaksikan festival musik yang digarap oleh warganya. Joko Widodo bahkan datang sendiri, tanpa kawalan atau pun protokoler seperti kebanyakan pejabat pada umumnya. Beliau langsung berjalan santai menuju areal barikade depan, dan terus berdiri menonton aksi band-band di Stage A hingga menjelang akhir pertunjukan. Sesekali pak walikota juga ikut mengacungkan simbol devil horn sambil mengangguk-anggukan kepala mengikuti irama musik cadas yang ditampilkan dari atas panggung. “Sejak sekolah dulu saya memang sudah suka ama Led Zeppelin, Black Sabbath, Iron Maiden, Metallica, dan Van Halen,” ungkapnya santai ketika diwawancara oleh MC di jeda pertunjukan. “Ini acara yang bagus. Perlu didukung. Kalau semua mau bekerja keras, saya pikir lamb of God atau Metallica bisa kok tampil di Rock In Solo tahun depan!”

Sementara di atas panggung sudah bersiap headliner selanjutnya, Kataklysm. Band metal asal Kanada yang berjuluk Northern Hyperblast ini tampil cukup apik dan powerfull. Max Duhamel dkk cukup adil merancang setlist lagu dari album lawas mereka hingga materi terakhir “Heaven’s Venom” yang dirlis oleh Nuclear Blast Records, setahun lalu. Mereka tampil cool, tenang, dingin, bahkan cenderung serius. Meski sempat ada gangguan pada gitar Jean Francois Dagenais, namun bagi sebagian crowd penampilan Kataklysm malam itu memang nyaris sempurna. Tak ayal, suasana di moshpit menjadi lebih panas dan bertenaga. Setelah kurang lebih satu jam beraksi dengan prima, Kataklysm akhirnya menutup set-nya dengan singel terbarunya, ‘Push The Venom”.

Menjelang tengah malam, giliran legenda Bay Area thrash metal scene yang cukup kesohor, Death Angel, untuk tampil di atas panggung. Mungkin idiom bahwa “Thrash metal is about having fun!” memang tidak perlu diragukan kesahihannya. Sebab Rob Cavestany dkk selalu tampil sumringah, enerjik dan seperti tak kenal lelah mengumbar semangat kejayaan musik thrash metal di sepanjang pertunjukan. Mimik muka yang hangat dan bersahabat selalu hadir di wajah para personil band ini. Terkadang mereka memainkan mimik muka yang konyol sambil berakrobatik memainkan instrumennya. Bagi penonton, hal itu tentu sangat menghibur dan kerap mengundang senyum bahagia.

“To be a metalhead is to be free. We’re all free in metal!” ungkap sang vokalis Mark Osigueda sambil menyemangati penonton untuk terus berbuat gila di moshpit. “Ini lagu tentang persahabatan. Tentang kita semua, para metalheads!” ujar sang vokalis sesaat sebelum menggeber lagu klasik “Kill As One”. Lagu-lagu lain yang meluncur apik dan mendapat respon panas dari penonton adalah “Bored”, “Seemingly Endless Time” dan singel terbaru “This Hate”.

Mungkin moshpit malam itu memang milik Kataklysm, namun jika bicara tentang aksi panggung dan blocking act maka Death Angel yang tetap menjadi juaranya. Kedua band terakhir tersebut cukup sukses membuat klimaks penggemarnya. Secara keseluruhan, enerji yang terpancar selama seharian penuh itu cukup menyentak dan menambah semangat bagi ribuan metalheads yang tak kenal lelah diterpa terik panas serta aura kecadasan kota Solo. Terlepas dari beberapa gangguan tehnis pada sound system dan kurang maksimalnya fasilitas pendukung festival, Rock In Solo masih bisa menjadi landmark bagi konser cadas level nasional dengan pendekatan kultur independen serta muatan budaya lokal yang patut ditiru.

*Artikel ini dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia, edisi Oktober 2011.