Mengulas kembali album-album yang esensial selama kurun waktu setahun terakhir akan selalu menjadi ritual wajib yang menyenangkan bagi para penulis atau editor media musik manapun. Awal tahun lalu, saya juga melakukan hal serupa untuk Majalah Sintetik untuk kategori album rock/metal esensial 2011. Sungguh sebuah kegiatan yang menyenangkan, sila baca artikelnya melalui Majalah Sintetik.

Nah, pada proyek artikel tersebut saya ditandemkan dengan editor Primitif Zine, M.Abdul Manan Rasudi, untuk bikin list album keroyokan atas gagasan usil Hilmi selaku ‘promotor’ dari Sintetik. Semacam duet kali ya, akh tapi itu mungkin lebih tepatnya adalah si Manan yang me-remix [baca; mengacak-acak] naskah saya. Di sana saya cuma sumbang list lima album yang tergolong ‘aman’ plus narasi singkatnya. Kemudian Manan yang menyempurnakan dengan koleksi lima album ajaibnya, plus mengolah plot cerita serta proses finishing artikel tersebut. Wow, hasil akhirnya ketika di-publish ternyata cukup cantik dan saya sangat suka sekali.

Kali ini, saya juga menuliskan list serupa. Namun ini kayaknya lebih pada kategori album cadas yang lebih underated dan jarang dibicarakan oleh media [musik] mainstream. Lebih personal juga, karena kebanyakan bersumber dari playlist Winamp Player saya selama setahun belakangan. Jika sebelumnya list saya masih tergolong aman, standar dan mainstream, maka semoga pada list kali ini sudah cukup underated, beda, dan berbahaya…

Mari kita mulai dari daratan yang melahirkan supergroup seperti U2 dan Cranberries. Dari Irlandia tiba-tiba muncul rilisan avant-garde semacam ALTAR OF PLAGUES “Mammal” yang gelap, dingin, dan atmosferik. Mendengarkan album ini akan bikin kita rela untuk sendiri dan terkungkung. Lalu coba menyeberang ke Bay Area California, di mana veteran death metal, AUTOPSY, kembalidengan album baru bertajuk “Macabre Eternal”. Bagi old-school fans seperti saya, rilisan ini merupakan sebuah selebrasi yang cukup penting. Band yang selalu terobsesi pada imej horror/gore itu berhasil membuat sebuah comeback yang brutal dan sangat ‘memenggal kepala’.

Bagi pasangan muda yang baru menikah, hindari bulan madu ke Perancis jika anda tidak siap mendapati musik black metal dan okultisme yang akut macam BLUT AUS NORD “777: Sect[s] / The Desanctification”. Rilisan ini merupakan dua sesi dari proyek album trilogi ambisius oleh seorang multi-instrumentalist bernama Vindsval. Jika ingin yang lebih nyaman, coba dengarkan DEAFHEAVEN “Roads To Judah” yang akan mengajarkan kuping anda untuk lebih manja lagi pada formula musik black metal ala USA dengan komplimen nada post-rock dan shoegaze yang dinamis.

Saya mulai bergidik ngeri saat menemukan EXHUMED yang masih menjadi tukang jagal paling kejam dengan karyanya, “All Guts No Glory”. Ini jelas gore-grind yang penuh darah dan daging di mana-mana. Slasher. Namun perlahan rasa ngeri itu berubah kagum saat memutar “Guiltless” album milik INDIAN yang dirilis oleh label metal favorit saya, Relapse Records. Selain musiknya yang eksplosif, saya juga demen sama artwork-nya yang keren. “Guiltless is one of the heaviest records of 2011,” tulis Pitchfork.com, dan memang sepatutnya kita amini.

Mungkin benar apa yang ditulis di berbagai media musik, salah satu yang terpenting dari album THOU “The Archer & The Owle” adalah lagu “Something In The Way” milik Nirvana yang didaur-ulang dalam struktur sludge yang selambat-lambatnya. Terus terang, saya suka lagu itu, dan selalu saya ulangi minimal tiga kali dalam satu putaran. Media musik terpercaya juga sempat memuji “Path of Totality”, rilisan prestisius dari TOMBS yang sukses menyajikan noise-rock, sludge, black metal, bahkan post-punk dalam adonan terbaik. Ada juga bagian di mana trio asal Brooklyn New York ini tidak melupakan root mereka pada genre punk/hardcore, dan tentu saja tanpa rap!…

Entah kenapa, setiap kali saya memutar TRAP THEM “Darker Handcraft”, yang teringat adalah nama-nama lokal seperti Antiphaty, Jeruji, atau bahkan Rajasinga. Rilisan ini menyajikan enerji D-beat punk, metal dan rock & roll yang tepat di ruang keluarga. Sangat familiar namun tidak membosankan. Bergeser ke arah pasifik, saya suka ULCERATE dengan albumnya, “The Destroyers Of All”. Di situ mereka berdiri sebagai unit post-metal kaliber dunia yang sudah layak bersanding dengan Isis, Pelican, atau Deathspell Omega. Well, Selandia Baru? Cukup dekat untuk diundang tampil di Indonesia khan?! *colek para promoter*

Sebentar, masih ada dua album lagi di playlist saya, dan itu seperti encore yang tepat. Pertama, WOLVES IN THE THRONE ROOM “Celestial Lineage” yang terdengar lebih kontemporer dari semua kelompok musik yang menurut anda ekletik dan eksotik. Konon mereka juga ikut bertanggungjawab atas maraknya playlist musik black metal yang ada pada perangkat iPod para hipster akhir-akhir ini. Terakhir, saya mengarungi komposisi irama lambat namun sangat rusuh dari YOB “Atma” yang hanya butuh 5 lagu dan 55 menit saja untuk bikin pendengarnya melayang, lalu jatuh menghempas tanah, dan matilah kita semua. Damn, Perfekt, Priceless!…

*Artikel ini belum pernah di-publish di media mana pun🙂