Jika ‘berisik’ adalah sebuah harmoni, maka Kiss The Pig mungkin cocok sebagai presentasi atas keganjilan tersebut. Nomor pembuka Why They Hate Us sudah tampak sangat ribut dan berisik. Sounding kasar dengan vokal yang terdengar bertumpuk. Nomor lain, Outland dan Sympathy Junky memiliki bumbu industrial/noise ala Ministry lawas yang disetel kencang. Sesekali ada break dan beat tenang untuk menarik nafas sejenak seperti pada lagu This Machine Kills Fascists atau Bee’s Wax And Star Wars. Sebagian besar lagu di Kiss The Pig memuntahkan drumming yang menderu konstan dan cepat. Miniatur musik grind/crust klasik ala Terrorizer atau Repulsion, namun diselimuti kabut noise yang berlapis. Komposisi seperti itu mampu menciptakan kelelahan yang sangat bagi sepasang kuping biasa. Di lain pihak, Steve Austin dkk juga membuat album ini terasa cukup ‘politis’ pada struktur nada dan komposisi, hingga ke topik lagu. Setelah bermain pada range-time 1 sampai 4 menit, akhirnya TITD menutup rangkaian marathon keributan ini dengan Birthright, sebuah opera yang berdurasi hampir 13 menit. Itu semacam kumpulan lagu bertempo curam dalam jeda yang singkat. Pertama begitu pelan, sludgy, doomy, soundscaping. kemudian masuk ke tempo medium, cepat hingga grinding. Sampai di titik finish Kiss The Pig sebuah pidato kemenangan sudah menyambut, “i will destroy my enemy. i will depend this world with my life. owner. strength. truth. courage. till died”. Mendengarkan rilisan ini anda butuh persiapan yang matang dan memang nantinya cukup melelahkan. Coba keluar dari zona nyaman anda dan nikmati petualangan seru bersama Kiss The Pig[Samack]

*Artikel ini ditulis untuk rubrik resensi musik di musiklopedia.com [Juli 2005]