Mendung yang menggantung di langit kota Malang membuat hari itu terasa cukup sejuk. Mulai siang sudah terlihat pemandangan yang sibuk di sekitar jalan Trunojoyo. Di antara deretan kios dan toko-toko terdapat ‘kesibukan’ lain yang tidak lazim. Berlokasi di sebuah hall pujasera yang sedang ber-transformasi menjadi café. Tempat itu memang belum beroperasi dan untuk pertama kalinya akan dipakai sebagai venue pertunjukan musik cadas. Kru organiser show Kolektif Radiasi cukup serius merancang ‘neraka’ pada hari itu, Senin 3 April 2006. Mereka ‘ketiban gawe’ mengadakan gigs yang akan menampilkan Burgerkill (Bandung) dengan empat band lokal pendukung. Satu company rokok dan tiga distro lokal turut serta mensponsori acara ini. Persiapan serta promosi yang mendadak tidak menyurutkan kerja panitia dan gairah pencinta musik cadas kota Malang. These monday would be a mayhem!…

Sekitar jam 3 sore empat bocah tanggung mulai menaiki stage dan memperkenalkan diri sebagai Axe Brand. Band yang tidak tercantum dalam poster acara ini memang diberi kehormatan sebagai opening act kejutan. Trik ini sekaligus untuk mengenalkan bibit lokal baru kepada publik. Band anyar yang berisi wajah-wajah muda ini tampil sangat meyakinkan. Mereka mengusung musik hardcore 80-an ala Agnostic Front dan Cro-Mags. Dan terbukti, siang itu Axe Brand mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Sudah waktunya mereka mendapat ‘kenaikan pangkat’ pada gigs selanjutnya.

Lalu giliran ExtremeDecay yang tampil menggerinda telinga. Sebagian crowd mulai mendesak maju dan meluapkan energi. Band yang baru merekam demo ini langsung memasung nomor-nomor baru dalam setlist-nya. Tipikal musik grindcore berdurasi singkat. Aksen vokal growl Afril mulai terdengar lebih jelas. Gitaris Ravie juga banyak menyumbangkan suara latar pada sebagian lagu. Sektor drum yang diisi Eko juga terdengar lebih variatif. Yudha bermain rileks mencabik empat senar bass-nya. ED bermain cukup konstan dengan belasan lagu karya mereka.

Kemudian Screaming Factor naik pentas dan mencapai level mendidihnya. Performa Novi dkk semakin baik dan mantap. Berturut-turut SF menggilas dengan track favorit The Fire That Burn In My Heart, I’m Still Broken While You Became A Mirror, plus karya-karya lagu terbaru mereka. Memang di setiap panggung lokal, band ini selalu hot dan dijamin heboh. Entah dari mana saja mereka berhasil mendapatkan fans sebanyak itu. Selama SF beraksi, venue mulai terasa sesak. Tak kurang dari 750 orang telah memenuhi hall café yang sempit. Jajaran depan dan tepian stage menjadi area yang sangat ‘riot’. Moshing dan pogo tidak terbendung lagi, hampir terjadi setiap saat! Kaki-kaki sampai menyentuh lighting dan atap stage yang memang pendek itu. Saking rapatnya, sejumlah anak sampai nekat berlarian di atas pundak dan kepala crowd. Terkadang juga ada aksi moshing dari atas tumpukan speaker. Sebuah pemandangan yang bisa bikin kaum awam bergidik ngeri. Namun lain halnya dengan seorang teman di sebelah yang justru berkomentar, “Wuih, asyik yah, kayak di video Hellfest!…”

Kemeriahan seperti itu berlangsung terus hingga akhir acara. Moshpit yang rusuh tak ayal membuat para kru panggung benar-benar terlihat sibuk dan bekerja keras. Berkali-kali mereka musti melemparkan tubuh penonton dari stage dan menjaga properti yang ada. Namun resiko yang harus dibayar adalah sejak saat itu kerap terjadi gangguan pada speaker dan sound. But hell, as far as we’re all goes rawk and have fun together!

Kelar break maghrib, backdrop panggung mendadak berubah menjadi kain putih bertuliskan “Primitive Hardcore Chimpanzee Power ; PCHC ½ Gila”. Ya, Primitive Chympanzee tercipta semakin ugal-ugalan. Kuartet usia panik Agus, Viktor, Gindung dan Agung berseragam satpam. Groupies fanatik mereka mulai berlarian dengan kostum tahanan, superhero dan gorilla. Stage yang kecil itu makin sempit dengan segala polah-tingkah umat pemuja PC. Partai hiburan keras di antara anthem-anthem spesial macam Hadkor Pret, S.O.S dan Kutang. Penonton kontan ber-evilsign saat intro Raining Blood mengalun. Kover lagu dari Slayer itu makin memecah moshpit dan memanjakan selera para metalhead. Setelah bermain istimewa selama kurang lebih 45 menit, PC mengakhiri set pertunjukan hewani-nya. Such an animal instinct!..

Stage kembali kosong dan sepi. Hanya beberapa kru berkeliaran menyiapkan sesuatu. Tapi penonton tidak juga bergeming, bahkan makin merapat ke bibir stage. MC Dedy Bowie dan Okta memanggil satu nama yang memang sudah ditunggu-tunggu. Lima pemuda berkaos metal dan celana armylook menaiki stage. Para begundal itu datang dari tanah Ujungberung Bandung, dan bakal menyuguhkan penghiburan yang gelap.

Burgerkill membuka set dengan Darah Hitam Kebencian. Itu salah satu stok lagu untuk album baru yang akan dirilis tengah tahun nanti. Cukup powerfull dan merangsang reaksi crowd. Semua personil bergerak penuh semangat. Gitaris Eben menyelesaikan lagu pertama itu dengan melemparkan tubuhnya ke arah penonton. “Whoyyy, senang sekali kami bisa hadir di Malang. Di kota underground terkuat di Jawa Timur!”, sapa Ivan (vokal) yang bikin publik semakin pede dan emosional. Terlepas apakah itu tadi statemen jujur atau trik belaka – yang pasti raut muka para personil BK terlihat sangat lega dan antusias dengan suasana show malam itu. Wajar, sebab selama pentas di Sidoarjo dan Surabaya dua hari sebelumnya BK tidak mendapatkan reaksi semeriah ini. Apalagi mereka termasuk ‘the most wanted band to perform’ di kota ini. Seperti ada perjanjian bahwa BK dan crowd akan tampil habis-habisan. Semacam kegundahan yang segera terbayar bagi BK dan publik Malang!

Tanpa jeda yang lama, Luka dan Penjara Batin langsung digores sebagai nomor berikutnya. Crowd cukup familiar dan mulai ikut ber-singalong. Moshpit terus bergerak dan benyanyi mengiringi performa BK. Band yang baru resign dari label mayor-nya ini coba menawarkan singel anyar, Shadow of Sorrow. Jika dicermati, aransemen musik BK sekarang menjadi lebih berat. Influensi musik metal-nya terdengar lebih kental dan padat. Ritme yang cepat itu mungkin hasil mutasi eks bassis Andris ke departemen drum. Sektor bass kali ini dibantu oleh teman dekat mereka, Toteng (gitaris Forgotten). Dan seperti biasa, BK tetap tidak melupakan unsur melodi yang banyak tercipta lewat aksi duo gitaris Agung dan Eben. Hasilnya adalah konsepsi musik yang agresif ala Lamb of God atau TBDM, serta harmoni cadas yang beraroma 90’s swedish metal.

Derai musik BK yang garang itu, tetap berisi karya lirik Ivan yang bernuansa gelap, “Aku memang tanpa pendidikan, anak tuhan asuhan setan!…” Nomor klasik yang jadi puncak performa mereka malam itu. Seperti lagu-lagu lama BK lainnya, ada banyak aransemen dan improvisasi baru di dalamnya. Sebagian memang sengaja dilakukan untuk konsumsi panggung. And it’s works well!…

Oke, ini satu lagu karya legenda hardcore Bandung!” sembur Ivan pada corong mik-nya. BK mengkover lagu Atur Aku-nya Puppen dalam versi khas mereka. tentu dengan komposisi yang lebih cadas. Ritme dan beat-nya berlari kencang. Namun masih tetap bisa menjaga harmoni aslinya. Keren, mungkin seperti inilah seharusnya band jika mengkover lagu orang.

Di akhir set, Eben dkk menutup aksinya dengan tembang Sakit Jiwa. Tanpa tawar-menawar maupun encore. Sebab BK sudah sangat all-out, dan penonton sudah pasti puas. Konser ‘neraka’ yang dijanjikan itu benar-benar terjadi. Senin itu bisa jadi menyisakan sejarah. Venue sesak dan tiket yang nyaris sold-out. Performa band yang istimewa. Crowd yang crazee. Serta rekor moshing dan keliaran show yang bisa dikatakan menyerupai Hellfest. Semua berakhir dengan rasa puas dan lelah. Well, yang pasti ini akan masuk dalam list gigs cadas terbaik di kota Malang. Hellyeah, what’s a fucking great funtastic show!…

Words by Samack / Photo by Seto Insomnium (dok. Kolektif Radiasi)

*artikel ini dimuat di Trax Magazine edisi Mei/Juni 2006