Pada bulan Agustus 1969, berlangsung sebuah ‘konferensi’ hippies ugal-ugalan yang penuh dengan hentakan rock & roll, sikap kontrakultur, serta tebaran bunga, cinta dan ganja. Saatnya kembali menyimak bagaimana ide, rencana dan kerja keras di balik kejadian itu. Sebuah perjalanan berliku menuju ‘surga kecil’ Woodstock, tiga puluh tujuh tahun yang lalu!…

Suatu hari di akhir bulan Desember 1968, Michael Lang (24 tahun) memasuki kantor Capitol Records di New York sambil membawa seberkas proposal. Lang adalah pemuda eksentrik yang jarang memakai sepatu dan menjadi manajer grup band Train. Maksud kedatangannya adalah untuk mencari kontrak rekaman bagi kelompok asuhannya itu.

Di salah satu ruangan kantor tersebut, duduk seorang pria bernama Artie Kornfeld (25 tahun) yang menjabat sebagai wakil presiden Capitol Records. Ruangannya selalu jadi tempat favorit bagi musisi yang menginginkan kontrak rekaman serta berharap albumnya bisa terjual jutaan kopi. Kesibukan Kornfeld yang lain adalah menulis lagu sekaligus memproduseri band The Cowsills. Ia telah menulis sekitar 30 singel hit, termasuk lagu Dead Man’s Curve yang direkam oleh Jan and Dean.

Lang yang tahu kalau Kornfeld pernah tinggal sekampung dengannya di Bensonhurst, Queens, langsung membuat janji bertemu dan mengatakan pada resepsionis Capitol bahwa ia adalah tetangga Kornfeld. Sejak pertemuan itu Lang dan Kornfeld mulai berteman baik.

Suatu ketika, Lang berkunjung ke apartemen Kornfeld di New York dan mereka berbincang banyak sepanjang malam. Dua pemuda itu mulai menjajaki kemungkinan kerjasama. Salah satu ide mereka adalah membuat semacam ledakan kultural, pertunjukan musik besar atau extravaganza. Ide lain yang sempat terpikir saat itu adalah membangun studio rekaman.

Mereka langsung teringat pada Woodstock, suatu lahan luas yang letaknya 100 mil dari Manhattan. Mereka yakin tempat itu mampu merefleksikan semangat ‘Back To The Land’ dalam suatu isu budaya tandingan. Apalagi Woodstock juga dianggap semacam Mekkah-nya para ikon rock & roll terkenal. Di era ‘60-an para musisi seperti Bob Dylan, Tim Hardin, Van Morrison, Jimi Hendrix dan Janis Joplin sempat pindah atau bekerja di daerah itu.

* * * * *

John Roberts (26 tahun) dan Joel Rosenman (24 tahun) bertemu secara tidak sengaja saat mereka menjalani kursus golf di musim gugur 1967. Sejak itu mereka menjadi dua sahabat, bahkan tinggal seapartemen. Keduanya ingin memproduksi sebuah program acara komedi situasi untuk stasiun televisi. “Itu seperti suatu komedi kantoran tentang dua lelaki yang lebih mempunyai banyak uang daripada isi dalam tempurung otaknya,” jelas Rosenman. “Setiap minggu mereka berdua memulai suatu bisnis baru, namun hasilnya selalu berantakan.”

Untuk merealisasikan ide produksi sitkom tersebut, pada bulan Maret 1968 mereka memasang iklan di Wall Street Journal dan The New York Times. Di dalam redaksional iklan itu tertulis ; “Pemuda dengan modal tak terbatas mencari kesempatan investasi dan kemungkinan usaha bisnis yang menarik.”

Mereka akhirnya mendapatkan banyak respon balasan dari ribuan pelamar. Mulai dari tawaran usaha bola golf, sepeda es buatan eropa, dan bermacam bisnis lainnya. Roberts dan Rosenman akhirnya pusing dan menyerah. Mereka menghapus impian produksi acara televisi dan segera beralih pada sektor usaha wiraswasta. “Bagaimanapun, kita telah menjadi karakter dalam show kita sendiri,” kata Rosenman sedih.

Di waktu yang sama, Lang dan Kornfeld sedang mencari modal untuk bikin festival musik dan studio rekaman. Mereka belum pernah sekalipun membaca iklan yang dipasang oleh Roberts dan Rosenman. Hingga suatu kali pengacara mereka merekomendasikan Lang dan Kornfeld untuk segera menemui dua pemuda kaya-raya tersebut.

* * * * *

Ke-empat pemuda itu bertemu untuk pertama kalinya pada bulan Februari 1969. “Kami bertemu di apartemen mereka di 83rd Street,” kisah Lang. “Mereka seperti dua pemuda yang naif. Mereka berpakaian sangat rapi, memakai jas dan kemeja. Artie yang banyak berbicara saat itu, sebab mereka tampaknya bingung dengan wacanaku. Mereka cukup penasaran dengan isu budaya tandingan, dan tampak sangat tertarik dengan proyek ini. Mereka menginginkan sebuah proposal tertulis yang sayangnya tidak kami bawa saat itu. Lalu kami sampaikan bahwa pada pertemuan selanjutnya akan kami siapkan lengkap dengan anggarannya.”

Pada pertemuan kedua, Lang menyodorkan anggaran dana untuk proyek Woodstock sebesar 500.000 dollar AS dengan target 100.000 penonton. Mereka berempat mulai bersemangat akan proyek ini. Pembahasan makin menjurus pada hal-hal tehnis dan operasional konser.

Hingga akhirnya pada pertemuan ketiga di bulan Maret 1969, proyek pertunjukkan rock & roll terbesar itu resmi diketok. Mereka berempat sepakat untuk bekerjasama dan membikin Woodstock Ventures Inc, dimana masing-masing memiliki saham sebesar 25 persen.

Sebenarnya ini termasuk proyek nekat. Di antara mereka berempat hanya Lang yang pernah memiliki pengalaman dalam produksi konser musik. Ia pernah ikut membidani lahirnya Miami Pop Festival (1968), suatu festival musik yang berlangsung selama dua hari dan sukses menarik 40.000 penonton.

Roberts yang merupakan lulusan University of Pennsylvania akan lebih banyak menyuplai dana, karena ia adalah jutawan pewaris pabrik farmasi. Pengalamannya akan musik sangatlah minim. Bahkan ketika itu ia mengaku hanya sekali menonton pertunjukan musik, yaitu konser The Beach Boys.

Sedangkan Joel Rosenman adalah pemuda yang baru lulus dari sekolah hukum di Yale. Pada tahun 1967 ia sempat pegang gitar dan mengamen bersama sebuah band lounge dengan berkeliling motel mulai dari Long Islands sampai Las Vegas.

Hingga hari ini, ke-empat orang itu tidak pernah sepakat tentang siapa sebenarnya yang datang dengan konsep orisinil konser Woodstock. Lang dan Kornfeld mengatakan bahwa Woodstock memang sejak awal direncanakan sebagai suatu festival musik terbesar yang pernah ada. Lang bahkan mengaku telah memulai pencarian lahan pertunjukan sejak musim gugur 1968, jauh sebelum ia bertemu ketiga partnernya yang lain.

Sedangkan Roberts dan Rosenman menyatakan bahwa mereka berdua yang melatarbelakangi festival tersebut. Sebab awalnya Lang dan Kornfeld lebih tertarik untuk investasi di bidang studio rekaman, dengan sebuah pesta pribadi yang mengundang para kritikus rock & roll serta pihak eksekutif perusahaan rekaman.

Roberts dan Rosenman lalu memilih gagasan pesta dan sedikit merubahnya menjadi konser musik rock. “Kami berempat telah bersepakat,” ujar Rosenman. “Bahwa kami akan membuat sebuah pesta besar, dan keuntungannya digunakan untuk membuat studio rekaman.”

* * * * *

Woodstock Ventures kemudian mencari tempat sebagai lokasi pertunjukan. Mereka sempat menemui sejumlah agen real estate untuk menemukan lahan yang bisa disewa dalam jangka pendek. Lang dkk ketika itu ditawari sebuah lahan milik Howard Mills, Jr seharga 10,000 dollar AS yang terletak di daerah Town of Wallkill.

“Saat itu hari Minggu di akhir bulan Maret,” ujar Rosenman. “Kami pergi ke Wallkill dan melihat sebuah kawasan industri. Kami lalu berbicara dengan Howard Mills dan mulai mencapai beberapa kata sepakat.”

Meski Wallkill sebenarnya masih kurang ideal untuk rencana konser mereka. “Sayang, atmosfirnya kurang tepat. Wilayah itu adalah kawasan industri,” ujar Roberts agak ragu. “Tapi setidaknya kita telah memiliki kepastian lahan untuk Woodstock.”

Mills Industrial Park yang seluas 300 hektar itu sebenarnya memiliki akses yang sempurna. Jaraknya tidak sampai satu mil dari Route 17, jalur utama transportasi penghubung New York State. Tempat itu juga mempunyai sarana yang lengkap, termasuk saluran listrik dan air. Meski sebenarnya lahan itu termasuk zona wilayah industri, namun ijin yang diajukan Lang dkk adalah untuk pelaksanaan konser musik dan eksibisi budaya.

Rosenman ditugasi melobi pihak pemerintah setempat. Ia mengatakan bahwa pertunjukan ini hanya akan dimeriahkan oleh band jazz dan musisi folk saja, serta paling banyak hanya meraup 50.000 penonton. Namun seorang pejabat daerah, Jack Schlosser, sempat curiga akan rencana tersebut. Ia kurang yakin dengan perhitungan penyelenggara, dan menganggap Rosenman sedang mengada-ada serta tidak tahu apa yang sebenarnya mereka kerjakan.

Sementara itu, Lang bersama Kornfeld mulai merancang konsep, imej dan nilai-nilai luhur yang akan ditiupkan Woodstock. Sejalan dengan atmosfir budaya, sosial dan politik yang terjadi di AS saat itu, mereka merasa cukup penting untuk menebarkan topik kebebasan dan perdamaian sebagai isu utama dalam pertunjukan ini.

Sejak awal April 1969, mereka sudah menyebarkan promosi dan iklan ke berbagai media, termasuk majalah Rolling Stone dan Village Voice. Harian The New York Times dan The Times Herald-Record juga memuat iklan Woodstock di edisinya bulan Mei.

Bagi Kornfeld, Woodstock bukan sekedar panggung besar, aksi musisi terkenal atau tiket yang laris terjual bak kacang – event ini merupakan wujud kebebasan berpikir, suatu kejadian yang akan selalu mempengaruhi wacana sebuah generasi.

Publisitas Woodstock selalu dirancang dengan menyajikan simbol-simbol budaya tandingan, lengkap dengan kampanye perdamaian serta menolak segala bentuk kekerasan. Mereka mencanangkan kalimat “Three Days of Peace and Music” sebagai slogan festival ini.

Poster orisinil Woodstock dibuat oleh seorang seniman bernama Arnold Skolnick. Logo Woodstock awalnya bergambar seekor burung kucing (catbird) yang bertengger pada sebuah suling. “Waktu itu saya memang senang menggambar burung kucing. Namun setelah mengetahui festival itu disebut dengan Arnold Skolnick Three Days of Peace and Music, saya akhirnya memakai merpati. Suling juga saya tukar dengan gitar,” tutur Skolnick.

Satu pekerjaan penting lainnya adalah mencari musisi agar mau tampil di Woodstock. Musisi pertama yang dikontak Lang adalah Melanie Safka. Saat ditawari dengan entengnya Safka langsung menjawab, “Oh tentu.” Namun, belakangan Safka sangat terkejut karena Woodstock ternyata bukanlah festival kecil seperti yang dia bayangkan sebelumnya.

Sedangkan untuk mem-booking musisi dan band besar yang dibutuhkan oleh Lang dkk saat itu adalah kredibilitas. Mengingat nama mereka masih baru dan belum berpengalaman maka hanya ada satu cara untuk meyakinkan, yaitu dengan menawarkan bayaran terbesar bagi musisi tersebut.

Jefferson Airplane yang biasanya paling mahal di-booking sebesar 6.000 dollar AS, ditampar dengan tawaran 12.000 dollar AS. Hal yang serupa juga dilakukan pada Creedence Clearwater Revival (11.500 dollar AS) dan The Who (12.500 dollar AS). “Kami harus menggaet tiga band besar dan saya tak peduli berapa harganya. Jika mereka minta 5.000 dollar AS, kasih saja 10.000 dollar AS. Ini namanya kredibilitas,” tegas Lang.

* * * * *

Suatu hari di antara akhir April atau awal Mei 1969, Allan Markoff (24 tahun) melihat dua orang asing berjalan memasuki tokonya. Mereka adalah Lang beserta Stan Goldstein (35 tahun). Goldstein adalah teman lama Lang yang pernah terlibat dalam Miami Pop Festival 1968, dan menjadi koordinator urusan camping ground untuk Woodstock nanti.

Mereka datang dan ingin tata suara untuk sekitar 50.000 sampai 150.000 penonton. Sampai tahun 1969, tidak pernah ada konser yang dihadiri lebih dari 50.000 orang. Mereka gila!” tukas Markoff.

Pilihan mereka pada Markoff disebabkan karena ia satu-satunya sound engineer lokal yang tercatat dalam majalah Audio Engineering Society. Markoff sendiri sudah memulai usaha toko peralatan audio-nya sejak tahun 1966 di Middletown.

Markoff masih ingat karakteristik sound yang dinginkan Lang dkk saat itu. Mereka minta dalam level amplifier yang paling rendah sekalipun harus mampu membuat sakit telinga pada penonton yang berdiri di depan speaker dalam jarak kurang dari 10 kaki!

Sementara Rosenman dan Roberts terobsesi akan dokumentasi film yang bisa menggambarkan aktifitas akhir pekan suatu konser musik. Jauh sebelum Woodstock, dokumentasi rock berarti hal yang tidak penting serta profit yang kecil. Namun video Monterey Pop yang baru dirilis tahun 1968 telah mampu mencapai boxoffice, dan memberi motivasi untuk pembuatan film sejenis.

Mereka menjatuhkan sasarannya pada sutradara berbakat Michael Wadleigh (27 tahun). Wadleigh saat itu telah memiliki reputasi sebagai sutradara dan kameramen untuk sejumlah film independen. Ia sudah banyak merekam kehidupan jalanan dan budaya di era ’60-an, serta pernah membuat film otobiografi tokoh-tokoh penting seperti Martin Luther King Jr, Bobby Kennedy dan George McGovern.

* * * * *

Masyarakat Wallkill sudah dapat mengidentifikasi proyek Woodstock ini. Gambaran sebuah konser rock bagi mereka adalah pemandangan kaum hippies, keributan dan lingkaran drugs. Dalam benak mereka, rambut panjang dan gaya hippies yang eksentrik selalu di-asosiasikan dengan arus politik sayap kiri atau pengguna obat terlarang. Penduduk pun mulai protes serta menolak rencana pesta barbar tersebut.

Pada bulan Juni 1969, Goldstein diutus hadir dalam rapat daerah yang membahas rencana Woodstock. Masalah mulai merebak, pihak birokrat dan warga setempat menyatakan penolakannya atas rencana konser tersebut. Imbasnya terkena pada sang pemilik lahan, Howard Mills, yang mulai sering diintimidasi. Ia sering mendapat teror telpon gelap dan diancam akan dibakar rumahnya. Bahkan tetangga sekitarnya mulai ikut menyalahkan dan memusuhi keluarga Mills.

Sementara itu publikasi Woodstock sudah beredar luas. Iklannya termuat di koran-koran, majalah dan stasiun radio di seputar Los Angeles, San Francisco, New York, Boston, Texas dan Washington, D.C. Tiketnya yang seharga 8 dollar AS per-hari dan 24 dollar AS untuk terusan tiga hari pertunjukan bahkan sudah bisa dipesan publik.

Namun konflik antara Woodstock versus birokrat lokal telah mencapai babak akhir. Pada tanggal 15 Juli 1969, pemerintah daerah Wallkill secara resmi melarang festival Woodstock dilangsungkan di wilayahnya. Alasannya karena rencana penyelenggara dianggap belum lengkap dan persyaratannya masih kurang.

“Saya benci Wallkill,” tegas Lang. Sejak awal ia sebenarnya merasa kurang yakin akan kondisi Wallkill. Daerah itu dianggap tidak cocok dengan nuansa ‘Back To The Land’ yang ingin mereka jual pada calon penonton. Apalagi Wallkill mulai diselimuti berbagai konflik politis dan sosial yang akan sangat berpotensi mengundang keributan. Mau tidak mau mereka musti mencari alternatif tempat yang lain.

* * * * *

Seorang seniman gay, Elliot Tiber, mendengar kabar bahwa festival Woodstock mengalami masalah di Walkill. Ia segera menelpon kantor Woodstock Ventures Inc dan langsung berbicara dengan Lang. Tiber coba menawarkan relokasi tempat konser dengan bantuan ijinnya.

Tiber adalah pengelola motel El Monaco yang sudah ia operasikan selama 12 tahun. Selama itu Tiber selalu mengijinkan berbagai pertunjukan musik dan seni untuk diadakan di lahannya. Ia bahkan merubah kasinonya menjadi sinema underground, tempat bagi penggiat sinema amatir untuk memulai dan belajar tentang bisnis film secara cuma-cuma.

Tiber merupakan warga Bethel yang sangat antusias dengan segala hal yang berbau seni. Namun tidak seorang pun di wilayah tersebut yang merespon baik aktifitasnya. Warga setempat terlalu sibuk membenci Tiber beserta kumpulan hippies-nya yang dianggap gerombolan kaum nomaden, homoseksual, dan lesbian.

Sejak awal Tiber sudah berniat membantu merealisasikan proyek Woodstock yang dicetuskan Lang dkk. Apalagi jabatannya sebagai President of the Bethel Chamber of Commerce selama beberapa tahun tentu akan melancarkan proses realisasi festival itu. Ia bahkan siap merelakan 15 hektar tanahnya untuk dipakai sebagai tempat pertunjukan.

Namun Lang menganggap lahan milik Tiber masih terlalu sempit dan sarananya kurang lengkap. Seketika Tiber teringat pada sobatnya si penjual susu, Max Yasgur, yang memiliki lahan paling luas di daerah itu. “Oh ya, kenapa kita tidak melihat tanah teman saya, Max Yasgur? Orang ini sudah lama menjual susu dan kejunya kepada kami. Ia memiliki tanah pertanian yang luas di daerah Bethel!…” seru Tiber.

Lahan itu digambarkan Tiber mirip seperti sebuah ampitheatre alam dan hanya dipenuhi sapi-sapi yang berkeliaran. “Saya yakin Max bisa memindahkan sapi-sapi itu ke dalam pekarangan rumahnya untuk sementara. Selama ini Max selalu mendukung teater kami. Dia juga suka musik. Ayo, mari kita tanyakan padanya!” ujar Tiber bersemangat.

Max Yasgur dikenal sebagai warga yang baik dan terpercaya di daerah Sullivan County. Ia pernah kuliah di New York University dan belajar hukum real estate. Sekitar tahun ’40-an ia kembali mengurusi tanah warisan keluarganya di daerah Maplewood, yang kemudian ia jual dan memutuskan pindah ke Bethel. Sepanjang tahun ‘50 hingga ’60-an Yasgur telah berhasil membangun industri susu yang terbesar di wilayah Sullivan County.

Oh, ada apa ini Elliot? Apakah festivalmu tidak berjalan lagi?” jawab Yasgur gusar saat dikabari Tiber bahwa ada orang yang berminat menyewa tanahnya sebesar 50 dollar AS per-hari untuk sebuah festival yang akan dihadiri 5000 orang. Saat itu Yasgur belum bisa memutuskan dan menyuruh mereka datang melihat lokasinya terlebih dahulu.

Tidak lama kemudian, Lang dan Tiber sudah berdiri di atas tanah Yasgur. “Ajaib, ini sempurna! Ada sebuah danau pada latar belakangnya!…”, seru Lang girang setelah melihat sendiri lahan luas milik keluarga Yasgur. Negosiasi harga langsung dibicarakan saat itu juga.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Lang dan Tiber membawa anggota panitia lainnya dengan mengendarai 8 buah limosin untuk melihat lahan baru calon lokasi Woodstock. Yasgur cukup terpesona dengan penampilan mereka, hingga dalam sekejap ia langsung menaikkan harga sewa lahannya. Negosiasi berjalan cukup alot dan menghasilkan kesepakatan harga yang mereka rahasiakan sampai sekarang.

Pada tanggal 20 Juli 1969, stasiun radio WVOS yang sudah mengetahui rumor tersebut langsung menyiarkan kabar perpindahan lokasi Woodstock ke daerah White Lake. Masyarakat setempat juga sudah mendengar berita itu dan menyebutnya sebagai ‘Woodstock Hippie Festival’.

Belajar dari pengalaman birokrasi di Wallkill, Lang dkk tidak ingin gegabah lagi. Mereka menegaskan pada pemerintah daerah Bethel bahwa festival ini hanya akan meraup paling banyak 50.000 penonton. “Ya, terpaksa saya harus memanipulasinya,” ujar Lang tentang prediksi jumlah penontonnya. ”Sebenarnya saya merencanakan ini untuk seperempat juta orang, tapi kami tidak ingin membuat masyarakat menjadi khawatir.”

* * * * *

Lang dkk kembali melanjutkan perburuan band dan musisi untuk Woodstock. Sejak awal mereka menganggarkan 15.000 dollar AS untuk setiap musisi. Sejumlah nama sudah dipegang dan sepakat, namun pihak manajemen Jimi Hendrix ternyata meminta lebih. Hendrix memang yang termasyhur saat itu. Dalam sebuah show-nya di California, sang dewa gitar itu bahkan dibayar 150.000 dollar AS.

Lalu kami tawarkan 32.000 dollar AS untuk Hendrix. Dia akan jadi headliner yang menutup Woodstock. Akhirnya dia sepakat dengan harga tersebut.” Ujar Rosenman yang terpaksa merahasiakan kesepakatan nominal itu. “Kami katakan pada yang lain bahwa Hendrix akan bermain dua set dengan harga masing-masing 16.000 dollar AS. Kami harus melakukan (kebohongan) ini, atau Airplane akan minta lebih dari 12.000 dollar AS.”

Lang segera menyiapkan kontrak untuk semua musisi penampil. Joan Baez akan bermain di hari pertama, Jum’at 15 Agustus. Musik rock & roll disediakan hari khusus sepanjang Sabtu dan Minggu. Satu-satunya aksi Hendrix adalah sebagai penutup Woodstock, dan tidak akan ada musisi lain yang tampil setelahnya. Total Lang dkk menghabiskan 180.000 dollar AS hanya untuk anggaran honor musisi dan band.

Bob Dylan adalah satu-satunya musisi terkenal yang belum masuk dalam kontrak mereka. Saat itu Lang yakin bahwa Dylan akan datang dengan sendirinya, sebab kelompok musik pendukungnya, The Band, sudah dipastikan akan tampil di Woodstock. Apalagi rumah Dylan terbilang cukup dekat, hanya 70 mil dari Bethel.

Beberapa pekan sebelum festival, Lang bersama Bob Dacey malah sempat mendatangi rumah Dylan di Ulster County. “Kami mengobrol selama beberapa jam. Saya mengundangnya ikut dalam konser, tapi ia akhirnya tidak pernah datang. Apa alasannya, saya tidak tahu.” tutur Lang.

* * * * *

Penduduk Bethel bukannya tidak tahu kekhawatiran masyarakat Wallkill sebelumnya akan festival ini. Problem kaum hippies, drugs, lalu lintas dan air tetap menjadi topik protes mereka. Lang dkk akhirnya memilih untuk membayar segala pungutan bahkan termasuk menyuap pejabat lokal agar proses ijin konser berjalan lancar, dan mendapat restu dari birokrat maupun masyarakat setempat.

Seorang penduduk Bethel, Abe Wagner (61 tahun) mendapat kabar bahwa tiket Woodstock sudah terjual sebanyak 180.000 lembar. Padahal festival itu masih akan digelar dua minggu lagi. Ia segera mendekati masyarakat setempat untuk mencari dukungan protes dan membuat petisi penolakan festival Woodstock.

Ketika itu Wagner takut bakal terjadi migrasi kaum hippies besar-besaran dan menimbulkan kerusuhan di Bethel. Ia lebih khawatir lagi setelah membaca iklan di majalah yang menulis ; ‘Datanglah ke Woodstock dan lakukan apa yang kamu suka tanpa ada yang menghalangimu!’

Sebagian penduduk bahkan siap menempuh jalur hukum untuk membatalkan festival tersebut. Namun 800 orang yang telah menandatangani petisi penolakan itu merasa dikecewakan oleh pejabat daerah Bethel, Daniel J. Amatucci, yang tidak menggubris surat protes mereka.

“Amatucci tidak memberitahu kami hingga seminggu sebelum festival,“ ingat Wagner. “Ia hanya berbalik dan membuangnya ke tempat sampah tanpa menyimaknya sama sekali.” Namun Amatucci mengaku telah membaca surat itu, dan ia hanya mengatakan pada Wagner bahwa semuanya sudah terlambat.

Tekanan, intrik dan protes makin menghantam kubu Lang dkk. Di awal Agustus 1969, Tiber mendapat telpon gelap dari seseorang yang mengancam kelangsungan konser dan nyawa para penyelenggara. Ia yakin teror yang kotor itu berasal dari golongan anti semit dan anti hippies.

* * * * *

Sepekan sebelum festival, lahan pertanian Yasgur tidak tampak seperti sebuah venue pertunjukan musik. “Mereka seperti sedang membangun rumah besar, yang lengkap dengan landasan helikopter,” ujar Art Vassmer, seorang pria pemilik toko serba ada di Bethel.

Sementara Goldstein menjajaki kerjasama dengan The Hog Farm, sebuah komunitas para indian peternak babi di California yang dipimpin oleh Hugh Romney alias Wavy Gravy. Rencananya, The Hog Farm akan dijadikan pemandu sekaligus panutan bagi penonton Woodstock berkaitan dengan aktifitas di camping ground.

Kami butuh kelompok tertentu yang bisa diteladani penonton. Kami percaya bahwa gagasan tidur di alam terbuka akan sangat atraktif bagi orang-orang. Sekalipun kami sadar mereka yang datang belum pernah tidur beratapkan bintang sepanjang hidup mereka. Kami akan membuat sebuah pengalaman istimewa yang bisa mereka bawa pulang dan akan selalu menjadi kenangan.” ujar Goldstein.

Pada tanggal 7 Agustus 1969, Lang dkk mencoba menarik hati penduduk Bethel. Di saat pangung utama sedang dibangun, panitia mengadakan pertunjukan gratis untuk penduduk setempat. Grup band rock, Quill diundang tampil menghibur masyarakat yang duduk bergerombol di atas rumput.

Kelompok teater Earthlight juga ikut beraksi dalam ‘pesta rakyat’ tersebut. Mereka tidak memainkan karya klasik seperti Shakespeare atau yang lainnya. Earthlight malah menyajikan komedi musikal berjudul Sex, Y’all Come yang banyak mengumbar penari telanjang, dan membuat penonton shock.

Di waktu yang sama, sekelompok oposisi tetap bersikeras mencari strategi untuk menghentikan Woodstock. Mereka merencanakan bikin aksi barikade manusia di sepanjang jalan sebelum festival tersebut digelar.

Tiber yang mendengar bocoran informasi tersebut langsung menuju sebuah stasiun radio nasional. Di sana ia mengabarkan bahwa ada sebagian pihak yang akan mengganggu festival ini, namun (calon) penonton tidak perlu khawatir sebab Woodstock dijamin akan terus berjalan.

Saya tidak dapat tidur nyenyak. Sekitar jam dua pagi saya terbangun karena mendengar bunyi klakson dan gitar. Saat itu masih Selasa pagi. Saya melihat ke luar dan ternyata penonton sudah mulai berdatangan.” kata Tiber yang semakin yakin bahwa Woodstock akan tetap berlangsung.

* * * * *

Saat persiapan Woodstock sudah mencapai tahap final, Kornfeld mulai memberi tawaran yang tidak dapat ditolak pada perusahan film Warner Brothers. Dua hari sebelum festival mereka telah bersepakat untuk memproduksi video Woodstock.

Kornfeld mengaku ia hanya butuh 100.000 dollar AS untuk membiayai produksi film yang ‘diperankan’ oleh Woodstock itu sendiri. Ia ingin segala bentuk akting, cahaya, dialog dan plot adalah orisinil apa adanya yang terjadi di festival tersebut.

Michael Wadleigh sedang menunggu di lokasi konser bersama (Martin) Scorsese,” kisah Kornfeld. “Yang mereka butuhkan adalah uang untuk produksi film. Surat kontrak akhirnya ditulis tangan dan saya tandatangani bersama Ted Ashley (Warner Brothers).”

Kornfeld lalu meyakinkan Wadleigh, “Sebentar lagi akan ada ratusan ribu orang di sekitar lokasi ini. Kamu hanya perlu ambil gambar dengan biaya 100.000 dollar AS dan kamu mungkin akan menghasilkan jutaan dollar. Kalaupun (konser) berubah menjadi rusuh, kamu tetap akan menghasilkan karya dokumenter terbaik yang pernah dibuat.”

Wadleigh langsung menyiapkan sekitar 100 kru dari New York Film Scene, termasuk calon sutradara terkenal Martin Scorcese. Ia merancang skenario Woodstock sebagai sebuah perjalanan sejarah bagi para hippies yang mengkritik Perang Vietnam. Ia juga akan menggambarkan kondisi kehidupan penduduk lokal di sekitar lokasi festival.

Wadleigh ingin menjadikan rock & roll sebagai eksperimentasi sikap atas kondisi sosial dan politik yang terjadi di masa itu. Ia akan mengambil gambar dan frame yang bervariasi agar video-nya lebih berkesan, dan tidak sekedar menampilkan hura-hura musik atau pesta hippies semata. Wadleigh bahkan bersedia mengorbankan tabungannya sebesar 50.000 dollar AS untuk membuat film itu sebaik-baiknya.

* * * * *

Kamis siang, 14 Agustus 1969, jalan-jalan sudah mulai ramai dan padat. Kemacetan lalu lintas yang masif terjadi sepanjang puluhan mil dari lokasi pertunjukan. Tentu saja, mereka adalah calon penonton Woodstock yang datang dari berbagai belahan AS.

Hari itu lokasi pertunjukan juga sudah dipenuhi lebih dari 25.000 orang. Penyelenggara mulai panik dan segera menambah jumlah sarana seperti dapur, saluran air serta toilet darurat. Mereka juga merekrut tambahan personil sebagai petugas medis dan sekuriti. Setiap panitia ditandai dengan secarik kain di lengan dan password rahasia yang berbunyi ‘I Forget’.

Sejumlah kios merchandise juga mulai dibuka untuk publik. Mereka menjual berbagai macam souvenir khas kaum hippies serta atribut dengan simbol dan slogan kontrakultura. Sebagian kru panitia juga membangun panggung alternatif yang berukuran lebih kecil daripada main stage.

Ken Babbs, pemimpin komunitas Pranksters yang direkrut membantu pelaksanaan Woodstock, bertugas menjadi MC di panggung kecil yang terbuka bagi siapa saja yang ingin tampil. Perangkat sound system yang dipakai di panggung tersebut merupakan pinjaman dari grup band The Grateful Dead.

Ketika itu rakyat AS masih larut dalam euforia perayaan pesawat ulang-alik Apollo 11 yang berhasil mendaratkan manusia untuk pertama kalinya di bulan. “Di saat (astronot) Neil Armstrong berhasil membuat langkah besar bagi umat manusia, di sini kami juga sedang membuat langkah raksasa untuk (bangsa) Woodstock, ” tegas Babbs.

* * * * *

Ide gila, obsesi nekat dan kerja keras yang revolusioner itu akhirnya terwujud. Festival Woodstock resmi digelar mulai hari Jum’at tanggal 15 Agustus 1969 tepat pukul 17.07 waktu setempat, dan tidak pernah berhenti sampai Senin siang tanggal 18 Agustus 1969 di Sullivan County, Bethel, negara bagian New York, AS.

Sederet musisi beraksi di atas panggung dan memimpin ‘ritual rock & roll’ bagi ratusan ribu penonton – mulai dari Joan Baez, Ravi Shankar, Santana, Grateful Dead, CCR, Janis Joplin, The Who, Jefferson Airplane, Joe Cocker, Johnny Winter, hingga ‘sang malaikat’ Jimi Hendrix.

Selama empat hari, venue itu menjadi sebuah ‘negara mini’ dengan populasi 450.000 orang penduduk bangsa Woodstock. Mereka bergandengan tangan melancarkan gagasan kontakultur serta menghalalkan kebebasan berpikir, narkotika dan cinta. Di sana mereka telah menyimpulkan wacana kebersamaan, serta standar hidup yang damai, jujur dan anti kekerasan.

Festival yang menghabiskan biaya lebih dari 2,4 juta dollar AS itu membuat kemacetan lalu lintas yang parah di negara bagian New York. Hal itu bikin penduduk marah besar dan pemerintah setempat bersumpah tidak akan pernah lagi mengijinkan pertunjukan sejenis.

Selama Woodstock berlangsung, 5.162 orang terpaksa menjalani penanganan medis, beserta 797 pengguna narkotika yang harus dirawat. Meski tidak ada perempuan yang melahirkan, namun telah terjadi delapan kasus aborsi. Dua orang meninggal karena overdosis, dan seorang lagi tewas tergiling traktor yang supirnya tidak pernah diketahui sampai sekarang.

Woodstock memang terbilang sukses dan fenomenal, namun Lang dkk rugi besar hingga 1,3 juta dollar AS. Enam bulan setelahnya, Roberts dan Rosenman membeli saham milik Lang dan Kornfeld masing-masing senilai 31.240 dollar AS. Empat pemuda nekat penggagas Woodstock itu kemudian membubarkan diri dan berpisah.

* * * * *

Menurut ahli sejarah kontemporer AS, Bert Feldman, Woodstock adalah sebuah kejadian sejarah, sebuah bagian dari leksikon kultural. Seperti halnya Watergate yang dianggap puncak krisis kepercayaan nasional, atau Waterloo sebagai simbol kekalahan pahit bangsa Amerika.

Woodstock merupakan episode akhir dari hedonisme generasi bunga pada masa serba boleh di akhir dekade 1960-an. Festival tersebut layak diukir sebagai salah satu tonggak kultur pop yang coba mendobrak tradisi konservatif atas nama kontrakultur.

Lebih daripada itu, Woodstock akan selalu menjadi fenomena klasik dalam sejarah rock & roll. Sama seperti yang dituturkan Feldman, “Woodstock adalah peristiwa yang hanya terjadi satu kali sepanjang hidup kita. Ia adalah kenangan kenangan terbaik, dan juga kenangan terburuk. Ia adalah sebuah pengalaman kebudayaan yang tidak akan pernah terjadi lagi.”

*Artikel panjang ini aslinya saya tulis pada bulan Agustus 2006 dalam rangka peringatan 37 tahun Woodstock 1969. Beberapa bulan kemudian saya muat di situs Apokalip.com. Data dan fakta disadur dari berbagai sumber media.