the cooling fire. the burning ice. the shinning blast.

karena kami bukan band politikal. kami dalam kehidupan sehari-hari hanya menjalani apa yang biasanya masyarakat umum lakukan. yah, sangat standar sekali dan berusaha untuk tidak bertele-tele. lagipula bukan sebuah keharusan kalau band hardcore itu musti politikal…”

demikian tulis rekan-rekan dari sf – via email yang dikirimkan pada bulan puasa awal oktober lalu – yang menjelaskan kenapa mereka memasung tema lirik yang lebih personal, sementara band hardcore biasanya identik dengan topik sosial-politikal.

screaming factor (sf) merupakan band cadas yang sudah sekian lama memanaskan hawa dingin kota malang. sejak berdiri di bulan maret 1997, mereka menjadi salah satu praktisi musik cadas yang sempat berkali-kali mengalami krisis internal dan gonta-ganti personil. karir panjang sf memang dibentuk dari kondisi peradaban scene lokal saat itu.

kembali ke venue knpi hall (mlg) sebelum era 2000-an, sf masih bervokalkan perempuan serta mengusung lagu kover dari sick of it all, 25 ta life dan vision of disorder. musiknya masih straight-forward dengan isian mosh-part sederhana ala band standar hardcore. ketika itu sf baru menjadi golongan ‘band kecil biasa’ yang masih giat berburu job main di gigs lokal, sambil coba-coba merekam demo sederhana.

seiring dengan karya dan pengalaman, perlahan-lahan nama dan derajat sf mulai meningkat. mereka mulai mengembangkan konsep musikalnya ke arah yang makin tak terkira. pemegang brand dan evolusi musik sf saat ini di-presentasikan oleh lima orang pemuda tanggung…

nurcahyono a.k.a yoyok (gitar) ; former member. eks pengelola label youth frontline records. sekarang berdinas sipil di polresta batu.

nanang choiruddin a.k.a udin (gitar) ; seorang ayah yang men-direksi aransemen musik sf. menjaga studio musik antz.

adon saputra (bass) ; imigran yang memuja shai hulud. penanggungjawab job manggung, merchandise dan publisitas sf.

novi andrianto (vokal) ; seorang metalheadz dan lirikus yang mencerahkan sisi kelam musik sf.

satrio hutomo a.k.a ayok (drum) ; tattoo-goer yang suka segala hal berbau recording dan sound system.

selayaknya band underground yang besar dari panggung, sf mulai terjun merambah pentas-pentas cadas di kota surabaya, sidoarjo, blitar, solo, jogja, hingga denpasar. fanbase mereka terkenal kuat dan memiliki penggemar yang loyal. menonton sf di pentas lokal terkadang bikin merinding. begitu banyak tingkah rusuh, sing-along yang meriah dan dansa yang liar dari para fans-nya. tak ayal mereka lalu di-plot menjadi headliner dan dilabeli sebagai band lokal terpanas.

novi dkk justru balik bertanya dengan segala kerendahan hati mengenai klaim sf sebagai ‘band paling panas’ di kotanya. “the hottest act??? kayaknya salah kalo nyebut kami ‘hottest act’. soalnya sf itu salah satu band yang aksi panggungnya paling cool, hehe. kami biasa aja kok, nggak hot-hot amat…”

walau kemudian mereka tidak menampik kalau panggung sf memang selalu ‘mendidih’ oleh geliat reaksi crowd, “kami seneng banget dengan antusiasme yang diberikan teman-teman sewaktu nonton show sf. kami sangat menghargai mereka karena udah mau support sampai saat ini.”

tahun lalu mereka merilis debut albumnya lewat label lokal, fukyu records. album tersebut dikerjakan secara full-eksperimentasi di studio antz dan nero. hasilnya cukup jitu mengadopsi nuansa apokaliptika di antara slide khas hardcore dan metal. meski boleh dibilang masih ada ‘kecolongan’ di tahap mastering-nya. tapi secara keseluruhan, pembebasan musik sf telah melampaui batas tembok old-school hardcore yang konservatif dengan mencampur singing part, akustik, balada, sampling sampai koor vokal.

kepandaian sf dalam meng-aransemen musik juga dilengkapi oleh tema lirik yang cukup istimewa. novi berhasil memadukan kalimat english-indonesia dengan topik yang mencerahkan. beberapa baris memang terbaca sangat puitis dan personal. sisanya justru memberi motivasi dan menjadi revisi atas sisi gelap-nya hidup.

tanpa disadari sensasi musik sf sedikit menunjukkan aroma ‘thriller’ yang jarang ditemui pada band lokal sejenis. apalagi rilisan mereka termasuk kategori produk ‘enlightment’, sebab sudah lama scene malang tidak melahirkan rekaman yang berkualitas. karya lokal yang sekaligus bisa jadi ‘tendangan di pantat’ yang telak. novi dkk juga mengakui telah mendapat berkah positif dari debutnya kemarin, “yah, respon yang didapat dari rilisan album pertama kami kemarin cukup bagus. kalo masalah penjualan masih standar-standar aja kok, masih sekitaran jumlah ratusan kopi…”

sejak itu, lagu-lagu sf mulai menjadi menu airplay di sejumlah stasiun radio lokal dan luar malang. profil dan review-nya juga banyak dikupas oleh berbagai media cetak dan website. baru-baru ini ripple magazine memuat profil mereka. majalah trax [edisi metal issue, januari 2006] bahkan menempatkan screaming factor sebagai salah satu dari 15 band lokal indonesia yang mampu mendefinisikan heavy metal di abad 21.

tapi perjalanan band indie di indonesia memang tidak selalu mulus. tidak lama setelah merilis debutnya, sf memutuskan berpisah dari label fukyu records. “wah gimana ya, ceritanya panjang banget. gak mungkin juga kalo kita tulis alasan kenapa sf mesti cabut dari fukyu recs. tapi yang pasti kita tetep kontak kok dengan orang-orang di fukyu recs.”

meski belum punya label resmi, sf tetap berkarya dan menulis lagu-lagu baru mereka. “biasanya udin yang punya aransemen dasar. dia nyoba-nyoba nge-jam ama ayok yang buat fill-in drum, trus mulai kita latihan bareng di studio dan tambah-tambahin sampe lagu itu bener-bener sip!” cerita mereka di balik proses penulisan materi musik sf. beberapa di antaranya sudah mereka mainkan di atas panggung dan mulai dibuat demonya. “kita udah mulai ngerekam singel-singel baru sf. yang udah jadi baru ada eyeless crown dan ends of beginning, yang mau kita ikutin dalam kompilasi yang segera rilis dalam waktu dekat ini”

mereka lalu membeberkan konsepsi musik sf dibanding materi album self-titled-nya yang kemarin, “perubahan mendasar sih kayaknya nggak ada. tapi yang pasti ada progres lah. mungkin musik sf sekarang ini bisa dibilang lebih cepat dan rapat. kalo liriknya rata-rata yang bikin novi. ya cuma nyeritain apa yang biasa kita jalanin dan rasakan tiap hari dalam kehidupan sosial.”

saat ini, sf sedang bekerja keras merampungkan semua materi yang akan dirilis sebagai karya berikutnya. persoalan release-date memang masih jadi tanda tanya besar, mengingat prosesnya sendiri masih berjalan. “rencananya sih dirilis secepat mungkin. pake label apa itu yang kami belum bisa jawab, soalnya kita masih belum dapet label sampai saat ini…”

persoalan label rekaman memang selalu jadi kendala bagi band lokal malang. tapi yang pasti, novi dkk tidak mempermasalahkan jika nantinya dirilis oleh label indie, minor atau mayor sekalipun selama itu tidak mengganggu esensi bermusik mereka. “yah gak papa, kenapa enggak kalo emang seandainya kesempatan itu datang pada kami. lagipula kalo kami nggak merasa dirugiin ya apa salahnya kalo kita ambil kesempatan itu?!”

di sela evolusi musik novi dkk yang makin ter-influensi banyak genre dan part, mereka ikut angkat bicara tentang klaim yang tepat untuk posisi sf. kira-kira sebutan apa yang pas bagi sf ; band hardcore atau band metal? secara tegas mereka kemudian menjawab, “hardcore!… karena biar gimana juga sf lahir dan berkembang di scene hardcore. sampai tahap apapun yang kami kembangkan dalam menciptakan karya musik, screaming factor tetaplah sebuah band hardcore!”

quote di atas juga mengantarkan mereka untuk menjelaskan kembali makna di balik slogan propaganda sf yang berbunyi ‘making hardcore a trend again’. “kami hanya ingin membangkitkan semangat untuk tetap mencintai hardcore scene yang ada di malang. membuat scene malang bertumbuh kembang dengan pesat, dan sekaligus dapat dijadikan sebuah pembuktian bahwa mchc is not dead!”

mchc adalah malang city hardcore. sebuah scene kecil yang sudah hampir satu dekade dibentuk oleh arek-arek malang penggemar hardcore. lalu seperti apa sf memaknai kondisi scene musik di kotanya saat ini?… “edan, seperti singo edan! scene cadas di malang sangat menakjubkan. banyak band-band bagus yang mungkin tidak dapat ditemui di kota lain. kultur kota yang sangat mendukung para scenester-nya untuk pol-polan jadi rocker-rocker cadas penerus bangsa.”

well, sejenak kita memasuki plot cerita ringan, sambil meyimak komentar mereka mengenai…

groupies : kami kurang tau ya kalo masalah ini, soalnya sf itu band yang minim groupies, haha!…

sex, drugs & rock n’ roll : enak, enak, cadassssssss…

myspace : berhubung personil kami ada yang kena penyakit 4 sehat 5 sempurna plus warnet, jadi kami rasa myspace cukup baik sebagai sarana promosi gratis bagi band kami hehe…

band baru yang berbahaya ; chilhood trauma, brigade 07, the apathies, snickers and the chicken fighter, last fall, 7th legacy, kids next door…

band yang musti bubar ; band r&b!…

setelah sekian lama berkarir dalam industri musik kecil-kecilan di malang, sf juga tidak menutup mata soal ‘kekurangan lokal’ yang masih ada. “hambatannya mungkin dari segi media. masih jarang media yang mau membantu publikasi band-band lokal.” ungkap mereka prihatin.

harapan dalam diri sf jelas dipenuhi optimisme yang tidak beda jauh dengan benak band-band lokal lainnya. mereka sangat memimpikan scene musik di kotanya lebih semarak dan berkembang lagi, “kayaknya malang lebih baik kalo bisa besar seperti scene new york…”

yah, semoga…

let’s do the things we can do now / don’t think too much of what will happened in future

because tomorrow never gonna come if we don’t move now…

[rock n’ roll sweet heart machine anthem]

lalu akan seperti apa sf dalam waktu – mmhh, katakanlah – lima tahun ke depan?

biarkan waktu yang akan menjawab…” tulis mereka singkat mengakhiri obrolan ini, sambil kemudian membubuhkan kalimat salam penutup ; god bless hard fuckin’ core!…

born… bored… live… die…

 

*Artikel ini saya tulis pada bulan Oktober 2006 untuk sebuah media lokal Malang yang ternyata entah kenapa tidak jadi terbit…😐