burgerkill ‘beyond coma and despair tour 2007’

Ayo, udah gak sabar nih anak-anak pengen segera tur dan jalan-jalan hehe…” Itu kalimat sms yang dikirim Ebenz kepada kru Kolektif Radiasi akhir tahun lalu. Well, setelah mengalami beberapa kali cobaan dan penundaan, akhirnya tur band metal asal Bandung, Burgerkill, sukses digelar pada bulan Januari 2007 di Jawa Timur dan Bali. Proyek yang digarap oleh Kolektif Radiasi dan AV Production itu juga mengajak special guest, seperti After All Over (Jakarta), Screaming Factor (Malang), Bangkai (Malang), Antiphaty (Malang), dan sejumlah band lokal setempat. Pengalaman tur pertama bagi Ebenz (gitar), Agung (Gitar), Andris (drum), Ramdhan (bass) dan Teguh (vokal) itu berjalan cukup seru serta penuh stori yang menarik. Bagaimana hari-hari mereka selama perjalanan, on-stage dan off-stage?! Samack, tour manager dari Kolektif Radiasi melaporkan langsung dari berbagai tempat kejadian. Let’s check it out!…

Selasa, 16 Januari 2007

Country Heritage Surabaya ; Sejak malam sebelumnya kru Kolektif Radiasi – Ook, Budhy, Ipul dan saya – sudah standby di apartemen. Ternyata baru jam lima subuh, rombongan Burgerkill sampai di Surabaya. Mereka datang mengendarai bus yang disewa khusus untuk perjalanan tur ini. Total ada 16 orang dalam rombongan Burgerkill, yang terdiri dari ; 5 orang personil, 1 orang road manager, 1 orang sound engineer, 4 kru tehnisi, 3 kru dokumenter dan 2 orang merchandiser. Bawaan mereka cukup banyak mulai dari ekuipmen, head cabinet, drumset, peralatan pentas, sampai dua kardus besar merchandise band. Jelas bahwa Burgerkill tidak main-main menyiapkan diri untuk tur ini. Setelah berbagi kamar, mereka langsung sarapan dan meneruskan tidurnya. Mereka musti fit, sebab siang harinya Burgerkill sudah dicegat jadwal soundcheck di venue dan talkshow di radio Prambors. Hellyeah, let’s the tour started!…

Balai Pemuda Surabaya ; Burgerkill naik panggung sekitar jam 10 malam. Mengawali teror yang intens lewat nomor Darah Hitam Kebencian. Kemudian satu-persatu lagu mulai mengucur deras. “Lagu ini spesial buat almarhum Ivan Scumbag!” teriak vokalis Teguh ketika memasuki intro lagu Unblessing Life. Highlight-nya pada saat sang vokalis membelah lautan penonton menjadi dua bagian di tengah lagu Sakit Jiwa. Bagi 1200 crowd pasti sepakat jika performa Ebenz dkk semakin mantap, istimewa dan enak ditonton. Band ini sudah selayaknya band besar. Mereka tidak sekedar menyuguhkan aksi dan musik yang brutal saja, tetapi juga sangat entertaining. Seperti blocking act yang spesial, repertoir yang tertata rapi, hingga semua detil penampilan yang sudah dipikirkan matang. Ya, tidak banyak band metal yang seperti ini. Konser malam itu cukup meriah dan mengesankan. Berlangsung panas, sepanas udara kota Surabaya!…

Fun & Fact ; Satu hal yang paling ditunggu dan bikin penasaran publik adalah menyaksikan performance sang vokalis sementara, Teguh [eks Right 88]. Selama ini masih saja ada kekhawatiran, pro-kontra dan perbandingan yang tidak perlu di kalangan fans Burgerkill. Memang tidak mudah untuk menggantikan [alm] Ivan Scumbag yang dikenal kharismatik dan hebat di panggung. Sebelum Burgerkill naik pentas, saya sempat mengobrol banyak dengan Teguh tentang gimana rasanya berada di posisi tersebut. “Wuih, berat man. Ini soal mental!” ucapnya serius. “Mungkin gua gak akan bisa seperti almarhum, tapi gua tetep berusaha tampil sebaik mungkin,” imbuhnya. Dan pada akhirnya saya dan beberapa teman sepakat bahwa Teguh sudah cukup baik menjalankan tugasnya selama tur ini. Mmhh i don’t know, tapi rasanya dia udah layak…

Rabu, 17 Januari 2007

Taman Chandra Wilwatikta Pandaan ; Sekitar jam dua dini hari rombongan mulai check-in di wisma Gardenia. Penginapan ini hanya berjarak 50 meter dari venue dan masih berada di dalam komplek wisata Taman Chandra Wilwatikta. Suasananya cukup tenang, asri, dan menyenangkan. Alhasil ini jadi salah satu tempat favorit bagi rombongan selama tur. Dini hari itu juga beberapa anggota menggelar party yang seru di kamar No. 6 sampai subuh. Ebenz dan Yarie (dokumenter) memamerkan permainan yang mereka sebut ‘ kuis menthok kata’. Games ini akhirnya populer dan menjadi favorit kami selama perjalanan tur. Sedangkan Amenk – vokalis band deathmetal Disinfected – yang ketiban tugas jadi kru merchandiser dikit-dikit berseru, ”Masa gak dirayain?!” Sori, hanya rombongan tur yang paham betul apa maksud dari kalimat Amenk itu, haha!…

Gedung Wijaya Pandaan ; Hanya dibutuhkan sekitar 500 crowd untuk bikin venue jadi menyempit, pengap dan sesak. Hall dan stage kecil itu sangat full dan crowded. Namun Burgerkill dan fans-nya justru lebih menggila di sini. Teguh bahkan bisa bernyanyi di atas tangan-tangan penonton. Beberapa kali terjadi lompatan tubuh manusia dari atas tumpukan speaker. Soundsystem yang sederhana pun bisa sangat memekakkan telinga di tangan Yayat Achdiyat (engineer). Pemandangan sangar itu lebih mirip gigs hardcore di klub-klub kecil. Burgerkill merasa dibawa kembali ke masa lalunya ketika masih menyandang cap band hardcore dan sering tampil di event-event underground lokal. Memang konser malam itu tergolong sukses dan di luar dugaan. After show, Burgerkill dikerubuti fans-nya untuk sekedar berbincang dan foto bersama. “Gak disangka! Pandaan memang gila! Mengejutkan!” Seru Agung antusias seakan menjawab keraguan mereka sebelum tur yang justru tidak tahu di mana letak kota yang bernama Pandaan itu. Don’t judge a city by its cover, haha!…

Fun & Fact ; Siang hari sebelum naik pentas, Ebenz sempat memotong rambut Andrismenjadi lebih cepak dan spiky. “Untuk membuang balak!,” begitu alasannya. Sementara ratusan anak muda Pandaan sudah memadati seputaran venue. Uniknya, gaya dandanan metal lawas dan streetpunk sangat dominan di kota ini. Kami sendiri cukup terkesan melihat pemandangan klasik dari penonton Pandaan itu. Ada nuansa oldschool dan sedikit aura nostalgia di sana. Kru dokumenter (Erwin, Dhika dan Yarie) sibuk mengabadikan crowd dan berbagai obyek menarik untuk melengkapi koleksi foto serta video tur mereka. “Wah seru, rasanya seperti kembali ke jaman underground di awal 90-an,” sahut mereka penuh semangat. “Yah beginilah Pandaan, the city of sins!” pungkas Verry, ketua panitia lokal yang mengomandani show hari itu.

Kamis, 18 Januari 2007

Pandaan – Batu Malang ; Kelar acara di Pandaan, rombongan langsung bertolak menuju sebuah vila peristirahatan di kawasan Batu, Malang. Selama perjalanan itu, Agung menjadi korban kejahilan dan dikerjain habis-habisan oleh Ebenz dkk di dalam bus. Satu jam kemudian rombongan sudah sampai di Villa. Tidak banyak aktivitas yang dilakukan Ebenz dkk kecuali segera tidur berselimut hawa dingin kawasan dataran tinggi. Sementara Yayat bersama Adan, Uwok, Buyung dan kru tehnisi yang lain turun ke venue untuk loading peralatan. Esok hari schedule Burgerkill cukup padat, antara lain menghadiri jumpa pers, soundcheck, talkshow di dua stasiun radio, dan konser di kota yang paling mereka tunggu-tunggu!

Maleo Urban Space ; Pukul 12.00 Ebenz dkk sudah ditunggu untuk acara jumpa pers. Puluhan insan pers, media dan fans hadir memenuhi ruangan kafe kecil itu. Mereka juga berkesempatan menonton dua video klip terbaru, Shadow of Sorrow dan Angkuh. Selama sesi tanya-jawab, Burgerkill dicecar pertanyaan seputar album baru, persiapan tur, pergantian vokal, dan perpindahan label. “Save the best [acts] for the best [town],” janji Ebenz ketika ditanya apa yang bakal mereka suguhkan pada publik Malang malam nanti. Oh ya? Oke, mari kita buktikan…

Balai Merdeka, Malang ; Sekitar jam 22.00 Burgerkill membuka show dengan intro instrumental Beyond Coma and Despair. Mereka memang tampil pol dan istimewa sesuai janjinya. Setlist yang spesial dan lebih banyak dari kota lainnya. Seek and Destroy (Metallica) dan Anjing Tanah dibawakan lengkap dengan intro gitarnya. Masih ditambah pula dengan aksi solo gitar dan solo drum yang mempesona. Sound yang keluar bahkan disebut-sebut sangat mirip dengan hasil rekaman mereka. Mimik muka Ebenz dkk makin antusias menyaksikan apresiasi dan tingkah 2000 crowd yang edan. Penonton ikut bernyanyi dan bersenang-senang. Barikade panggung ternyata tidak menghalangi suasana moshpit yang terus menggila. Seperti yang diperkirakan, konser malam itu boleh dibilang puncak dari rangkaian tur Burgerkill. Panitia bekerja habis-habisan untuk merancang produksi show yang maksimal dan megah. Lengkap sudah penampilan Burgerkill malam itu. It was their best show ever on these tour!…

Fun & Fact ; Menjelang pentas, bahu Andris sempat terkilir. Kondisi itu sempat bikin cemas kru Burgerkill dan panitia. Setelah soundcheck, panitia memanggil Gatot, teman kami yang berprofesi sebagai tim message klub sepakbola Persema untuk merehab kondisi Andris. Sesi pemijatan berlangsung di villa sore hari menjelang show. Hasilnya lumayan manjur, buktinya Andris bisa bermain maksimal malam itu. Ah, rupanya membawa tim medis dan tukang pijat bisa direkomendasikan untuk perjalanan tur selanjutnya, haha…

Jum’at, 19 Januari 2007

Villa Batu – Jember ; Hari ini adalah day-off, tidak ada kegiatan show maupun promo media untuk Burgerkill. Sebagian besar beristirahat, berenang, atau melakukan ‘ritual’-nya sendiri di dalam kamar. Namun siang harinya rombongan musti bersiap-siap bertolak menuju kota Jember. Selama perjalanan, kami bergembira penuh canda dan tawa. Adan menghibur rombongan dengan gitar bolongnya dan tembang-tembang lawas mulai dari Iwan Fals sampai Ebiet G Ade. Sementara Yarie dkk masih ngotot dengan ‘kuis menthok kata’-nya. Di waktu yang bersamaan, kecemasan sedang melanda panitia lokal di Jember. Oh what the fukk?!…

Kota Jember ; Sejak kemarin sore kami sudah mendengar kabar bahwa ada masalah soal pemakaian venue di kampus Unmuh Jember. Dua orang panitia tur segera berangkat duluan untuk menyelesaikan problem tersebut. Mereka langsung berkoordinasi dengan organiser lokal dan pihak berwenang soal nasib konser esok malam. Sekitar jam 8 malam rombongan bis mulai merapat ke hotel Seroja Jember dengan satu pertanyaan dan harapan besar, “Jadi main khan besok?!…”

Fun & Fact ; Panitia dan Burgerkill malam itu masih cukup tegang dan cemas dengan teka-teki besar seputar kepastian konser esok hari. “Sialan, masih belum jelas nih. Pihak pengelola venue Unmuh tidak bisa ditemui,” jelas Ravi, kru Kolektif Radiasi menjelaskan kondisi terakhir malam itu kepada rombongan. “Tapi kita bakal tetep loading kok besok pagi. Ijin kita udah beres semua kok!” sahut Wahyoe GV dari AV Production yang jadi promotor tur ini. Agung, Teguh, Ramdhan dan beberapa kru coba menenangkan diri dengan bermain bilyar dan jalan-jalan di pusat kota Jember. Well, tomorrow never knows…

Sabtu, 20 Januari 2007

Kampus Unmuh Jember ; Sejak pagi, panitia mulai memasang segala perlengkapan show di lapangan basket Unmuh. Dalam waktu singkat semua ekuipmen, panggung, rigging, sound dan genset sudah terpasang di venue. Kejadian ini kontan mengundang kehadiran bapak Rektor dan pejabatnya di lokasi. Mereka segera memanggil panitia untuk berdiskusi di ruangannya. 30 menit kemudian delegasi panitia keluar ruangan dengan muka masam dan tegang. Pihak rektorat Unmuh Jember bersikeras membatalkan ijin pemakaian venue yang sudah mereka setujui sendiri. Alasan yang mereka pakai adalah jadwal show bertepatan dengan tahun baru 1 Muharram. Sungguh gak masuk akal, segala prosedur ijin mulai dari tingkat kampus sampai kepolisian sebenarnya sudah beres. Persiapan konser pun sudah 99% dan tinggal ‘jreng’ aja. Panitia sudah coba melobi extra-keras, namun rektor tetap pada keputusannya yang sangat tidak bijaksana. Akhirnya tidak ada jalan keluar lagi, pertunjukan hari itu terpaksa batal. Panitia langsung mengajukan somasi dan klaim resmi kepada pihak Unmuh untuk mengganti rugi biaya produksi serta publikasi yang sudah terlanjur dikeluarkan. Sampai tulisan ini dibuat pun masih belum beres juga dan tetap sengketa. Oh what’s a nightmare?!…

Hotel Seroja ; Berita batalnya konser di Jember memang layak disesali. Tapi barudak Burgerkill cukup bisa memahami kondisi yang ada. Untuk berpindah venue dalam waktu yang sangat singkat pun tidak mungkin dilakukan. “Yah mo gimana lagi? Yang penting kita musti kasih tahu penonton dan fans Burgerkill di sini. Semoga mereka mau ngerti…” ungkap road manager Jemi Sunardi dengan bijak. Tidak ada pilihan, malam ini tetap stay di penginapan sambil menunggu waktu untuk segera cabut menuju pulau dewata!…

Fun & Fact ; Komunitas metal, teman dan fans di Jember akhirnya berdatangan menemui Burgerkill di penginapan. Konser yang batal pun berubah jadi ‘jumpa fans’ dadakan. Ebenz dkk ditodong untuk tanda tangan, berfoto dan mengobrol bersama. “Sori deh, lain waktu kita pasti akan manggung di Jember!” janji personil Burgerkill pada mereka. Sementara pasukan lokal yang membawa minuman keras tradisional langsung dipandu Amenk dan Andris menuju teras kamar mereka. “Wah rame dan seru nih. Ayo kumpul di sini, masa gak dirayain?!” seru Amenk yang selalu meracuni pemuda-pemuda di setiap daerah untuk berpesta dan mabuk-mabukan. Maklum, di dahinya udah dicap sebagai komandan persekutuan pemuda perusak moral dari markas Ujungberung, hah!…

Minggu, 21 Januari 2007

Wisma Bima 2 Kuta ; Sekitar jam 7 pagi rombongan memasuki daerah Kuta dan segera check-in di penginapan. Ugh ternyata panitia lokal sudah menyiapkan welcome drink berupa 20 liter arak. “Oh tenang aja, kita bakal ancur-ancuran di Bali,” seru Plecie, kru Kolektif Radiasi yang ditunjuk jadi pemandu Burgerkill selama di Bali. Sekitar pukul 16.00 WITA Ebenz dkk melakukan soundcheck. “Neraka terakhir nih, musti dipol-polin. Lagian baru pertama kali ini kita maen di Bali,” ungkap mereka penuh antusias dan optimis.

Jak Resto Kuta ; Sejak petang ribuan crowd sudah memadati seputaran venue. Ebenz dkk siap bermain semaksimal mungkin, sebab malam ini adalah panggung terakhir yang menutup tour-trip mereka. Lima awak Burgerkill naik panggung sekitar jam sepuluh malam dan menunjukkan terornya. Sederet tembang mulai dari Darah Hitam Kebencian, Shadow Of Sorrow, We Will Bleed, sampai Angkuh dan Creeping Death (Metallica) mengalun lugas.Sekitar 1200 penonton yang datang dari berbagai daerah di Bali menyambut cukup antusias. Seperti biasa, lagu fenomenal Sakit Jiwa tetap didapuk sebagai titik pamungkas aksi mereka. Sedetik kemudian Ebenz, Andris, Agung, Ramdhan dan Teguh saling merangkul pundak, membungkuk, dan mengangkat dua jari bersimbol evil-sign ke udara – yang serentak diikuti oleh seluruh penggemar fanatik Burgerkill. Konser yang seru dan hampir mencapai klimaks. Malam itu jadi akhir dari rangkaian tur yang menyenangkan, dan pulau dewata memang cocok sebagai penutup pesta. It’s a heavy ending!…

Fun & Fact ; Sehabis pentas, sebagian tim Burgerkill jalan-jalan menikmati suasana tengah malam di Kuta. Sementara after-tour party kecil-kecilan digelar secara sederhana di penginapan. Kamar milik Kolektif Radiasi menjadi tempat pendaratan botol-botol dan jerigen berisi arak. Malam itu jatahnya panitia tur untuk rileks dan berpesta. “Yah meski ada beberapa kekurangan, tapi cukup puas lah untuk ngurus proyek tur pertama kayak gini,“ ungkap para kru Kolektif Radiasi. “Yoi, seru aja. Pengalaman yang berharga. Gak percaya ternyata kita bisa juga bikin tur ya, hehe…”

Senin – Selasa, 22 – 23 Januari 2007

Kuta & Denpasar ; Dua hari ini adalah day-off dan jatah liburan bagi rombongan Burgerkill. Sejak pagi mereka bahkan sudah berdandan ala turis domestik dan menyewa motor untuk berkeliling Kuta dan Denpasar. Jalan-jalan di pantai sambil membeli kaca mata tentunya menjadi tujuan favorit. Sementara sisanya memilih untuk bersantai dan bercanda dengan tamu-tamu lokal di penginapan sambil menenggak arak yang seakan tidak pernah habis. Dan aktifitas semacam itu terus berlanjut sampai tengah malam. Bahkan sampai keesokan paginya. Ya, rasanya enggan diakhiri…

Bali – Jawa ; Selasa pagi masih digunakan untuk rekreasi bagi sebagian anggota rombongan Burgerkill yang masih belum puas menikmati suasana Bali. Madie dan Amenk terlihat sibuk mengepak sisa merchandise Burgerkill ke dalam kardus. Selama tur mereka berhasil meraup omzet sebesar 8,4 juta. “Yah lumayan buat nambah kas. Di Surabaya dan Malang yang paling laris,” tutur mereka. Siangnya bis rombongan menuju pasar seni Sukawati dan Badung untuk berbelanja oleh-oleh dan beragam souvenir untuk keluarga di rumah. Setelah puas shopping, kami semua langsung bertolak kembali ke pulau Jawa, sekaligus mengakhiri tur band metal yang paling seru pada tahun ini. That’s right, metal-trip will always be a blast. Hellyeah, see you on the next fukken tour!…

SETLIST BURGERKILL ; BEYOND COMA AND DESPAIR TOUR 2007

Surabaya [16/01] ;Darah Hitam Kebencian / Luka / Penjara Batin / Shadow Of Sorrow / We Will Bleed / Rendah / Angkuh / Creeping Death [Metallica Covers] / Laknat / Sakit Jiwa.

Pandaan [17/01] ;Luka / Shadow Of Sorrow / We Will Bleed / Penjara Batin / Unblessing Life / Heal The Pain / Berkarat / Angkuh / Hancur / Sakit Jiwa.

Malang [18/01] ;Beyond Coma and Despair [intro] / Darah Hitam Kebencian / We Will Bleed / Shadow Of Sorrow / Rendah / Angkuh / Solo Gitar / Anjing Tanah / Unblessing Life / Penjara Batin / Solo Drum / Seek and Destroy [Metallica Covers] / Hancur / Sakit Jiwa / Atur Aku.

Kuta Bali [21/01] ;Beyond Coma and Despair [intro] / Darah Hitam Kebencian / Luka / Penjara Batin / Shadow Of Sorrow / We Will Bleed / Rendah / Angkuh / Creeping Death [Metallica Covers] / Laknat / Sakit Jiwa.

*Jurnal ini dimuat di Trax Magazine, edisi April 2007.