Judul Buku : HEAVIER THAN HEAVEN ; Biografi Kurt Cobain

Judul Asli : HEAVIER THAN HEAVEN ; The Biography Of Kurt Cobain

Pengarang : Charles R Cross

Penerjemah : P Herdian Cahya, Dion Wicaksana, Herlambang Jaluardi

Penerbit : Alinea, Jogjakarta

Cetakan : Pertama, November 2005

Tebal Buku : XIV + 548 halaman

Di masa hidupnya dia adalah idola, di masa matinya dia menjadi legenda. Di sela-sela itu ia selalu dihinggapi mimpi buruk tentang perceraian orang tua, broken-home, kegelisahan, kemarahan, serta adiksinya terhadap obat-obatan terlarang. Sementara di satu sisi yang lain ia kerap bermimpi akan mencapai ketenangan, ketenaran, dan kejayaan artistiknya dalam bermusik. Sebuah riwayat hidup seorang lelaki yang luar biasa sedang diceritakan di sini.

Kurt Donald Cobain terlahir pada tanggal 20 Februari 1967 dari pasangan Donald Cobain dan Wendy Fradenburg, serta menjalani masa kecil yang tidak biasa di Aberdeen Washington hingga remaja. Di usia tiga tahun ia menjadi kakak kandung satu-satunya bagi Kim, adik perempuan yang sangat dicintainya. Namun sayang, momen-momen keluarga yang bahagia itu hanya sempat ia rasakan dalam waktu yang teramat singkat. Hidupnya kemudian diliputi rasa depresi akibat momen perceraian orang tua, pertengkaran keluarga dan menjalani hidup yang berpindah-pindah.

Sejak remaja, ia sudah merancang nasib sebagai musisi rock dan mengajak teman-temannya untuk membentuk sebuah grup musik. Band yang kemudian dia beri nama Nirvana itu mulai tampil memperkenalkan apa yang disebut Seattle Sound. Band itu akhirnya berhasil meraup sukses besar di era 90-an dalam waktu yang cukup singkat. Tanpa menyepelekan peran dua anggota band lainnya – drummer Dave Grohl dan pemain bass Krist Novoselic – Nirvana telah menjadi sebuah manifestasi spirit dari seorang figur Kurt Cobain. Nirvana tanpa sosok Kurt Cobain bukanlah sebuah brand yang hebat dalam industri rock n’ roll. Vokalis yang merangkap gitaris ini memegang peran utama dalam mengantarkan Nirvana menjadi grup band rock alternatif/grunge yang paling populer di Amerika Serikat dan dunia.

Setelah menapaki jenjang popularitas, Kurt mulai tumbuh dan berkembang di antara pertikaian sesama keluarga, teman dan kawan bisnisnya. Suami dari Courtney Love (vokalis/gitaris band Hole) ini kerap membuat resah dan merepotkan orang-orang di sekitarnya. Kurt mulai dikenal sebagai pribadi yang rapuh, sulit ditebak dan membingungkan. Kondisi tersebut adalah sebagian dampak dari masa lalunya bersama keluarga yang selalu diselubungi oleh gelapnya masalah kecanduan obat, depresi dan bunuh diri.

Di balik segala kesuksesan yang telah ia raih, selalu terselip rasa kesepian yang mendera dan perasaan bahwa dirinya sedang dieksploitasi oleh industri musik dan penggemarnya. Bersama Nirvana, Kurt memang telah mencapai hasil brilian dengan menciptakan karya-karya yang jenius, artistik dan sukses di pasaran musik internasional. Sayang hal tersebut agak kontra-produktif dengan segala keluhan dan kebenciannya terhadap industri, interaksi sosial, masa depan, atau bahkan terhadap dirinya sendiri. Sebelumnya Kurt selalu percaya bahwa pengakuan atas talentanya akan menyembuhkan dia dari luka emosinya semasa kecil. Nyatanya ia merasa makin tersiksa atas ketenarannya sendiri.

Di masa beli – jauh sebelum ia melambungkan karirnya dalam bermusik – Kurt seperti telah terobsesi dengan apa yang namanya ‘Bunuh Diri’. Sejak usia 14 tahun, dia sudah sering mengungkapkan kalimat bunuh diri – baik itu sebagai sebagai lelucon, tujuan hidup maupun sebuah motif yang sangat serius. Sebagian anggota keluarganya memang tewas dalam cara yang tidak lazim itu. Hingga Kurt pernah menyatakan kalau ia juga mempunyai ‘sifat turunan untuk bunuh diri’. Obsesi aneh itu seringkali menjadi rancangan membayangi Kurt di setiap karya lirik, lukisan dan bait-bait catatannya. Pernah ia menulis, “Seperti Hamlet, aku harus memilih antara kehidupan dan kematian.”, atau sepenggal liriknya di lagu Pennyroyal Tea, “Give me a Leonard Cohen afterworld, so I can sigh eternally.”

Di saat-saat tertentu, adiksinya terhadap obat-obatan telah mencapai dosis maksimal. Sekejap kemudian kegelisahannya menjadi pekat dan mencapai puncaknya. Berkali-kali ia mengalami overdosis dan hampir menemui ajal, sehingga harus dibawa ke rumah sakit atau menjalani rehab khusus. Namun ia bersikeras dan masih tetap percaya pada ‘barang-barang’ itu untuk setiap solusi masalahnya. Sekalipun ternyata drugs tidak pernah menyelesaikan apa-apa. Hingga akhirnya suatu hari di bulan April 1994 Kurt memutuskan untuk memutar album Automatic For The People-nya REM, menelan obat penenang, menyuntikkan heroin dan menarik pelatuk senapan yang tepat mengarah ke langit-langit mulutnya. Ia tewas meninggalkan secarik kertas catatan bunuh diri yang sangat dikenal dengan salam terakhirnya ; Peace Love Empathy.

Hari itu, Kurt Cobain telah memilih bergabung dengan Jimi Hendrix, Janis Joplin, Keith Moon (The Who) serta Jim Morisson (The Doors) yang juga ‘menyelesaikan hidupnya’ di usia muda yang sama, 27 tahun. Seakan meneruskan mitos kematian bintang rock yang terlalu dini dan selalu misterius. Ini menjadi sebuah akhir riwayat yang memilukan dari seorang dewa musik rock yang paling terkenal di jamannya.

Editor majalah The Rocket dan jurnalis musik asal Seattle, Charles R Cross melukiskan perjalanan hidup Kurt Cobain secara lengkap melalui riset selama empat tahun, 400 sesi wawancara, dan sumber-sumber catatan dokumen penting lainnya. Secara cermat dan akurat sang penulis cukup berhasil menyodorkan sisi terang dan sisi gelap seorang bintang rock muda yang pada masanya selalu menjadi headline kontroversial baik di atas panggung maupun di luar panggung. Heavier Than Heaven yang pertama kali diterbitkan oleh penerbit Hodden and Stoughton (London, UK) pada tahun 2001 ini bahkan diklaim sebagai salah satu buku terlaris tentang kehidupan seorang rockstar oleh The Los Angeles Times.

Sebagaimana diungkapkan penulisnya, segala wacana yang terdapat dalam buku ini akan selalu merujuk pada berbagai pertanyaan mengenai spiritualitas, kegilaan seorang seniman jenius, bagaimana drugs menghancurkan jiwa seseorang, serta keinginan untuk memahami perbedaan yang begitu besar antara sisi luar dan dalam seseorang. Sepintas akan seperti sebuah cerita fiksi psikologis yang unik dengan berbagai plot kemarahan, keharuan, kekecewan serta putus asa.

Selama menyimak buku ini, pembaca seakan ditarik masuk dan larut ke dalam kisah hidup Kurt yang terbilang tragis. Sekilas juga akan merasa dekat dan mengenal sosok fenomenalnya – bahkan bagi mereka yang belum pernah tahu nama Kurt Cobain sekalipun. Sedangkan bagi mereka yang ikut menyelami hingar-bingarnya musik rock di era 90-an, rasanya tidak akan terlalu asing dengan segala sikap pemberontakannya. Saat itu, Kurt Cobain dan Nirvana adalah ikon utama dari segala pemberontakan dan kepedihan populer kaum muda dunia. Sebuah kausa yang hampir berhasil mengubah cara pandang para pemuda selama satu generasi.

Proses penceritaan yang runut dan mengalir menjadikan bacaan ini lebih menarik serta sulit untuk dihentikan. Sebagian kisah hidup Kurt memang masih tersembunyi dan selalu menjadi misteri. Namun buku ini telah berhasil mencapai penggambaran yang sempurna untuk sebuah kontroversi mengenai realita hidup, drugs dan rock n’ roll. Suatu pengalaman seorang musisi berbakat yang memiliki dua gairah utama ; Kesuksesan dan Kepedihan – yang dengan caranya sendiri, Kurt merasa telah berhasil membunuh kedua hal tersebut. Heavier Than Heaven adalah kisah dan pelajaran hidup seorang bintang rock yang tidak bisa ditolak mudah hanya dengan sebuah ucapan ‘Nevermind!’…

Diresensi oleh Samack, penggemar musik rock, tinggal di Malang.

*artikel ini ditulis untuk rubrik resensi buku di harian Jawa Pos, Juli 2006.