Swing Café Malang, 28 Mei 2005

Ini bagian ketiga dari sekuel konser musik keras yang cukup happening di scene lokal Malang. Mulai menjadi sebuah ‘hajatan lokal’ yang rutin seperti halnya One Blood di Bandung atau Biang Kerok Fest di Jogja. Awalnya dari sebuah project iseng dan keinginan untuk bersenang-senang bagi para local-addict yang ingin men-seremoni-kan aksi-aksi musik cadas yang terjadi sejak dua tahun lalu. Dan kembali dengan prakarsa dari scenester lokal dan para voluntir yang tergabung di kolektif_radiasi coba mengatasi stagnansi di sektor beat cadas. Jika di sekuel pertama Hardcore Attack (Feb ‘ 03) memainkan dua nama asing asal jerman, Wojczech dan G-Las, maka di sekuel ketiganya bertepatan dengan datangnya dua band Nippon, Fuck On The Beach dan Vivisick, yang juga dalam rangka promotour di Indonesia. Hardcore Attack 3 berpindah venue ke Swing Café, sebuah hall yang seakan makin akrab dengan beat-beat musik keras dan dianggap memiliki ‘soul’ cukup ideal untuk gigs cadas. Klub musik kecil ini mampu menampung 500an crowd dan pernah dipakai oleh hampir semua band lokal Malang, bahkan Cluster Bomb Unit (jerman) dan Ingrowing (ceko) juga sempat menjajal venue ini. Ok let’s go to the show, jam satu siang gelaran ini baru di-start oleh penampilan Blankbonthenk. Penonton yang belum seberapa itu langsung disuguhi aksi punk bergerinda dari proyek member-nya No Lip’s Child, Freon Heksa dan System Error. Membawakan karya-karya sendiri setipikal Cripple Bastard sampai The Exploited. Ya, awalan yang cukup memancing. Lalu Today Is Struggle ambil jatah naik pentas beraksi dengan irama klasik 80’s hardcore yang agresif. Irama oldschool dengan topik lirik yang positif. Mengajak crowd untuk melompat lebih tinggi. Uh, lama tidak menonton Bangkai di atas panggung. Ini band paling veteran yang telah eksis lebih dari 10 tahun dan bisa disebut kakak tertua dari semua band lokal Malang. Andri dkk yang telah merilis dua album indie memainkan paduan grind-metal-rock yang lebih modern. Bloking act-nya makin mantap. Musiknya yang makin upbeat dan penuh hentakan itu mulai disukai crowd. Mereka punya track-track baru ala Nailbomb atau Slipknot. Dari negeri Jogja naiklah Dirty Mouth. Jarot dkk bermain santai penuh canda bersama crustbeat-nya yang justru dianggap sebagian teman bertambah serem. Irama padat berdurasi pendek mengalir terus tanpa henti. Penonton terlihat mulai bersemangat dan pasang ‘aksi’. Sementara itu di setiap jeda, duo MC Indri dan Nophenk dari kelompok hiphop Twinsista ternyata cukup handal dan mampu menguasai suasana gigs cadas. Mereka berdua tidak canggung dengan ‘celoteh dan godaan’ publik metal. Selanjutnya giliran tamu spesial Fuck On The Beach (Jepang) ‘mengotori’ ruangan hall dengan noisegrind-nya yang cepet dan ribet. Musik mereka dalam tempo power-violence yang sejenis dengan Charles Bronson atau Slight Slappers. Vokal yang screeched dan kocokan gitar yang frantik. Pendekatan bermusik mereka yang raw dan komikal sedikitnya cukup membuat penonton antara bingung dan linglung. Berkali-kali para kru repot menurunkan crowd yang selalu melimpah di sekitar stage – yang agak mengganggu konsentrasi band dan pandangan penonton di sektor belakang tentunya. Masuk ke sesinya Antiphaty yang sore itu mengundang banyak tamu spesial seperti Agus Moron bermain gitar di Postmortem-nya Slayer, Ook System Error menyambut mik untuk kover dari Disrupt dan Afril ExDx sumbang suara di nomor klasik Antiphaty, Apostate. punk/crust ala Swedish-rawk dengan beat-beat setara The Exploited atau Total Chaos. Band crustpunk yang pernah diandalkan ini berusaha mengambil kembali tahtanya. Wajah komikal berkostum napi dan superhero naik ke atas panggung untuk sebuah jamuan audio-visual khas Primitive Chympanze, sekelompok freak hc/metal yang moron semacam SOD atau NRSV. Masih dengan performance yang liar, repertoir yang ngaco dan kostum unik yang selalu jadi paket show mereka. PCHC tetap menjadi salah satu band keras yang orisinil dan apa-adanya. Sore itu Viktor dkk bermain singkat saja dalam 4 – 5 lagu barunya. Amat prima dan sepertinya jadi show terbaik mereka selama ini. Akhirnya di penghujung gigs, Vivisick (jepang) meledakkan lahar fujiyama-nya. Musiknya diklaim gabungan antara 80’s Japanese hardcore dengan American style. Sang vokalis tampil kesetanan, nyanyi berlarian ke hampir seluruh sudut venue. Personil lainnya juga bermanuver liar di atas stage. Memberikan pemandangan yang sangat chaotic dan violent. Setelah satu-dua encore paksaan, aksi kelompok fast HC asal nippon itu pun selesai dan seluruh kegiatan ini berakhir. Di luar venue, kota Malang mulai mencapai malam dan gelap, meninggalkan sisa-sisa spirit yang masih berdengung seakan itu sebuah janji bahwa kecadasan di kota ini tidak akan pernah mati!… [Samack]

*Artikel ini ditulis untuk rubrik live report di musiklopedia.com [Juli 2005]