The Fourth Dimension


“@samacksamakk: Well, media cetak independen bisa bertahan hingga 4 tahun dan merilis puluhan edisi itu sangatlah TIDAK MUDAH. God speed @CGzine. Juara!!!”

Kalimat di atas saya twit sesaat setelah pulang dari event Common Ground 4th Anniversary Party di Hugo’s Cafe Malang, 17 Juli lalu. Ya, tepat di hari itu Common Ground magazine berulang tahun yang ke-empat, dan menggelar pesta sederhana yang rasanya memang cukup layak untuk dirayakan.

Common Ground adalah sebuah media cetak independen yang eksis sejak tahun 2008, dan telah merilis lebih dari 25 edisi hingga saat ini. Media ini digarap secara mandiri oleh anak-anak muda yang punya passion tinggi akan scene musik dan kultur anak muda di kota Malang. Kerennya, Common Ground mampu beredar secara cuma-cuma alias gratis. Biaya produksinya hanya didapat dari sponsor-sponsor lokal yang kebanyakan adalah clothing, distro atau store yang tersebar di kota Malang.


Let The Party Begins
Malam itu saya memasuki venue sekitar jam setengah delapan. Masih belum terlalu ramai crowd di dalam. Tepat saat itu band pertama, God Servant, sedang bersiap-siap di atas stage. Pengusung musik death metal ini membuka aksinya lewat beberapa nomor. Terdengar cukup kencang dan bertenaga. Nuansa musik metal yang teknikal dan part-part yang groovy mulai tertangkap di telinga. Skill drumming-nya malah terdengar cukup aneh dan ganjil bagi saya. Itu bagus dan jadi pembeda dengan band sejenis. Band yang masih tergolong anyar ini cukup potensial juga, pikir saya. Terlebih saat mereka mengkover lagu “Masih Biadab” milik Sekarat dengan sempurna di akhir set-nya.

Kemudian ada Bangkit Melawan, komplotan hardcore dengan pilihan nama yang cukup provokatif. Sebelumnya, nama band ini sering saya baca dalam berbagai promo di sosial media. Ini pertama kalinya saya menonton aksi panggung mereka. Lumayan keras dan enerjik memainkan paduan irama punk/hardcore yang klasik. Mereka memilih mengkover anthem “Malang City Punk Rockers”-nya The Babies, band punkrock yang eksis di akhir era 90-an.

Oya, semenjak aksi dua band pembuka ini saya mulai paham. Ternyata pihak Common Ground magz seperti ‘mewajibkan’ setiap performer untuk mengkover lagu-lagu karya band lokal Malang di event ini. Yah, semacam tribut bagi band dan karya lokal yang ada. Konsep yang menarik dan cukup menantang, terutama bagi mereka yang ingin lebih mengenal root serta ikut menghidupi scene musik lokal Malang. It’s a good thing. Saya jadi makin penasaran, lagu lokal apa yang akan dikover oleh band-band selanjutnya?!…

My Beautiful Life mungkin penampil yang paling kalem dan sejuk di antara list band yang ada malam itu. Norman dkk coba membius lewat irama musik pop/folk yang cukup menghanyutkan. Beberapa lagu mereka sajikan, termasuk hits “Pulang”. Di akhir aksinya, mereka menggubah lagu “Fenny” milik Draf, sebuah band pop lokal malang yang cukup underated. Pilihan yang berani, sebab saya pikir gak banyak crowd yang mengenal lagu tersebut. Setahu saya, Draf ini kemudian hijrah ke Jakarta, bergabung dengan mayor label, dan berganti nama menjadi Putih hingga sekarang.

Notes From The Underground
Common Ground sejak empat tahun lalu ikut menginjeksi denyut nadi scene musik di kota Malang. Hampir setiap bulan, majalah ini terbit gratis dan  bisa diambil secara cuma-cuma di berbagai spot anak muda, mulai distro, studio, resto hingga kafe. Media ini cukup gigih mempromosikan band-band lokal dan giat memberitakan berbagai peristiwa budaya anak muda di kota Malang.

Saya selalu mengamati perjalanan Common Ground sejak mereka merilis edisi perdananya, empat tahun silam. Saya juga masih mengkoleksi semua edisinya – yang selalu dikirimkan secara rutin kepada saya – dan saya melihat banyak progres di sana. Saya juga mengenal baik para awak redaksinya, mulai dari Uchie, Antok, Hendi, Rino, Irwan hingga Norman yang saya yakin adalah orang-orang yang sangat peduli dan mau bekerja keras demi intensitas media ini, dan scene lokal umumnya. For those about to rock, we must salute them!…

Malang kudunya bangga memiliki media semacam Common Ground. Sebab media sejenis ini macam Ripple [Bandung], Outmagz [Jogja], atau zine-zine lain justru berhenti dan gulung tikar. Problema utama media indie semacam ini tentu saja masih berkisar pada soal finansial produksi dan konsistensi redaksinya. Di tengah kepungan media online yang semakin marak, keberadaan media cetak indie saat ini ibarat jarum emas di atas tumpukan jerami. Dan jatum emas yang sangat berharga itu patut untuk ditemukan dan terus dilestarikan. Semoga makin banyak pihak yang bisa terus men-support eksistensi media ini.

Sebenarnya karya Common Ground tidak melulu berupa majalah saja. Beberapa kali mereka juga sempat bikin event atau program spesial. Seperti misalnya pertunjukan musik yang cukup akbar dan sempat mengundang Shaggy Dog [Jogja], Heavy Monster [Surabaya], atau Seringai [Jakarta] sebagai special guest-nya. Bahkan belakangan ini mereka juga merancang program “Common Ground Goes To School”, sebuah rangkaian talkshow dan live music ke sejumlah SMA di kota Malang. It’s such a great movement.

This Is A Toast!
Kembali ke panggung hajatan, ada muda-mudi pop-punk, Analogkids, yang selalu catchy di setiap performanya. Kelompok female-fronted ini mengusung sejumlah track yang cukup legit. “Waiting The Sun Goes Down”-nya Goodboy Jimmy berhasil mereka bawakan dengan apik, meski tidak terlalu merubah corak aslinya. Fanbase mereka yang sebagian besar anak muda belasan tahun tampak bersuka ria menonton aksi band ini.

Atlesta adalah sebuah proyek disko-rock bentukan Fifan Christa [Little Star] bersama beberapa kawan-kawan dekatnya. Secara visual, band ini sudah terlihat cukup nakal dan binal. Apalagi topik lagu-lagunya kerap menyerempet pada hal-hal yang seronok dan tabu, namun tetap dikemas secara fun. Band ini mengkover hits lawas milik Flanella yang berjudul “Bulan”. Di akhir set, Atlesta mengundang khusus beberapa gadis sexy dancers untuk menemani mereka berdansa di atas panggung. Atmosfir acara langsung merayap naik dan memaksa sebagian crowd [baca; lelaki] untuk menelan ludah pahit. Tak ayal, beberapa orang langsung menobatkan Atlesta sebagai ‘the hottest Malang’s act’ untuk saat ini. Sinting!…

Di tengah penampilan Atlesta, sempat ada acara tiup lilin kue tart yang dilakukan oleh redaksi Common Ground magz, mulai dari Uchie, Antok, Rino, Hendi, Irwan dll. Suasana cukup haru dan penuh binar bahagia di wajah mereka. Tentu, semua awak redaksi memang layak mendapat penghargaan atas konsistensi dan kerja keras mereka selama empat tahun terakhir ini.

Di penghujung acara, tampil Pitskankin’ yang didaulat untuk menutup pesta. Pengusung musik ska tradional ala The Specials dan Madness ini bikin moshpit kembali sesak. Venue kecil itu akhirnya menghadirkan pemandangan dansa, sing-along, dan stage-diving di antara penonton. Lagi-lagi, anthem klasik “Malang City Punk Rockers” milik The Babies yang berkumandang keras.

Sebuah pesta yang layak untuk dirayakan. Sebuah spirit dan kerja keras yang sudah patut untuk dihargai lebih tinggi. Saya selalu berharap semoga kita semua masih mendapat kesempatan untuk hadir di pesta ulang tahun Common Ground yang ke-lima, enam, atau bahkan yang ke-tujuh belas!…

Malam itu, kami sudah berbagi segala jenis minuman dan potongan kue tart. Oke pesta telah usai, tapi saya yakin semangatnya akan terus berkobar. Saya ikut bersulang gembira untuk Common Ground!…

*Penulis adalah pembaca rutin CG, peminum kopi, dan penggemar pesta. Artikel ini dimuat dalam Common Ground magz edisi #26 [Okt-Nov 2012]

0 Responses to “The Fourth Dimension”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




samack

Axis Blog Award 2012 Nominee


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers

%d bloggers like this: