Di Balik Sensasi Album Kedua Atlesta

fifan christa of atlesta [photo by hendisgorge / irockumentary]

fifan christa of atlesta [photo by hendisgorge / irockumentary]

“Ibaratnya, kalo album pertama kami itu seperti pasangan yang bercinta di kamar kos, lalu direkam pakai kamera ponsel versi 3gp. Pokoknya main brutal dan kudu cepat orgasme, soalnya takut digrebek warga sekitar. Sedangkan di album kedua ini, suasananya lebih rileks dan berkelas. Seperti bercinta di kamar president suite. Prianya pake jas dan dasi, perempuannya pake gaun. Necis lah. Minumnya juga sampanye atau tequila. Cukup elegan dan romantis seperti apa yang kita tonton di video X-Art, PassionHD atau Joymii. Seperti itulah!” ungkap Fifan Christa, otak di balik Atlesta, saat mendeskripsikan progres musik mereka jelang perilisan album kedua.

Atlesta adalah unit electro-pop yang cukup kesohor di skena musik kota Malang. Membicarakan Atlesta itu memang selalu soal Fifan Christa – sama seperti jika kita membicarakan Nine Inch Nails itu adalah Trent Reznor. Tanpa mengecilkan peran personil atau kolaborator yang lain, Fifan Christa memang mastermind di balik segala konsep musik, lirik, hingga imej yang dibawa Atlesta.

Continue reading ‘Di Balik Sensasi Album Kedua Atlesta’

No Man’s Land dan The Young’s Boot Rilis Vinyl Untuk 100 Tahun Kota Malang

Malang Skinhead 7" EP

Malang Skinhead 7″ EP

Dalam rangka merayakan 100 tahun kota Malang [1914-2014], pionir musik oi!/skinhead asal kota Malang, No Man’s Land, mengajak kolega sekotanya, The Young’s Boot, untuk merilis album split dalam format vinyl berukuran 7 inci. Rilisan yang dikasih tajuk Malang Skinhead ini juga menjadi penanda 20 tahun eksistensi No Man’s Land di dunia musik.

Rekaman tersebut dirilis dan diedarkan oleh Aggrobeat, sebuah label rekaman asal Belanda. Sebelumnya, Aggrobeat juga sudah bekerjasama dengan No Man’s Land saat merilis album The Best of 1994-2012, serta kompilasi Oi! Made In Indonesia yang berisi 25 lagu karya dari 13 band oi!/skinhead asal Indonesia.

Continue reading ‘No Man’s Land dan The Young’s Boot Rilis Vinyl Untuk 100 Tahun Kota Malang’

Begundal Lowokwaru Kembali Menginvasi Nusantara

foto oleh norman hs [happipolla photoworks]

foto oleh norman hs [happipolla photoworks]

Sejak merilis album bertajuk Nada Sumbang Pinggiran pada bulan April 2014 lalu, Begundal Lowokwaru langsung tancap gas merangkai tur masif ke berbagai kota di pelosok Indonesia. Ustard Chipeng [vokal], Antok Celz [gitar], Buyung [gitar], Agek [bass], dan Risky Gundul [drum] kembali menjalani peran utamanya sebagai band panggung dan menyambangi fans-nya melalui program Tur Nusantara.

Selama tur tersebut, Ustard Chipeng dkk sudah manggung selama dua bulan non-stop mulai dari kota Samarinda [11 Mei], Balikpapan [12 Mei], Jogja [18 Mei], Jakarta [21 Mei], Batam [24 Mei], Pekanbaru [25 Mei], Padang [26 Mei], Bengkulu [28 Mei], Palembang [31 Mei], Cipanas [04 Juni] dan Tangerang [08 Juni].

“Sudah jadi kebiasaan bagi Begundal Lowokwaru untuk tur sambil memasarkan album ke berbagai kota. Kali ini kami akan tur keliling Indonesia, mengunjungi daerah-daerah yang belum pernah kami injak sebelumnya,” ucap Ustard Chipeng.

Continue reading ‘Begundal Lowokwaru Kembali Menginvasi Nusantara’

Playlist ; They Have Got Me Hanging Upside Down Again

playlistdfr

Dari Dansa Bowie dan Amarah Jack, Hingga Protes Moz dan Groove-nya Prong.

Beberapa pekan lalu, saya iseng nge-tweet, “Saat David Bowie dan Morrissey rilis album baru di tahun ini, daftar ’10 best album of 2014′ sudah menyusut dan sisa 8 nama/album lagi.”

Yah, saya tidak main-main soal tweet itu. Kedua album mereka sungguh bagus.

Selain dua album digdaya tersebut, saya juga sedang mendengarkan beberapa album apik yang lain. Dalam tempo sesingkat-singkatnya, berikut kumpulan album yang sering saya putar, komplit dengan ulasan singkatnya…

Continue reading ‘Playlist ; They Have Got Me Hanging Upside Down Again’

Rockmadhan Di Malang [Bagian 01]

MLG

MLG

“Ini menarik. Di Malang, setiap bulan puasa itu justru lebih banyak gigs dibandingkan dengan bulan-bulan biasa,” ucap seorang pemuda yang berkaos Iron Maiden kepada saya sesaat sebelum ia menyulut sebatang rokok putih, tepat ketika adzan maghrib mulai berkumandang. Dia lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam tas ranselnya, menenggaknya sekali, lalu menghisap kembali rokoknya sambil tersenyum kecil.

Ya, apa yang dibilang kawan saya itu tadi memang ada benarnya. Banyak benarnya malah, jika setiap bulan Ramadhan selama beberapa tahun belakangan ini kita mau mengamati kawasan jalan Soekarno Hatta Malang, yang jadi ‘zona khusus’ dan primadona untuk meluangkan waktu ngabuburit di kota ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kawasan itu setiap harinya tetap menjadi andalan untuk berburu menu takjil, makanan, promo produk, sampai aneka hiburan sembari menanti bedug maghrib.

Continue reading ‘Rockmadhan Di Malang [Bagian 01]‘

Musik Dalam Gambar dan Imaji

band shirts

band shirts

“In an artwork you’re always looking for artistic decisions, so an ashtray is perfect. An ashtray has got life and death.” – Damien Hirst.

Siang itu, 25 Juni 2014, saya diundang untuk berbincang dalam talkshow bertopik “Music, Artwork & Merchandise” di Ibu House Coffee Malang. Saya tidak sendirian, karena ada juga kolega yang lain, yaitu…

Continue reading ‘Musik Dalam Gambar dan Imaji’

Menafsirkan Sepakbola Bersama Eddward S. Kennedy

world cup 2014 graffiti [urban times]

world cup 2014 graffiti [urban times]

“Some people think football is a matter of life and death. I don’t like that attitude. I can assure them it is much more serious than that,” kata Bill Shankly [1913 - 1981], salah satu manajer Liverpool FC paling hebat di sepanjang sejarah klub Inggris tersebut.

Ungkapan Bill Shankly itu cukup beralasan jika kita mau melihat sepakbola tidak sekedar permainan 2 x 45 menit semata. Bukan soal skor akhir, atau menang-kalah. Sepakbola, seyogyanya, sudah seperti merayakan denyut dan sendi kehidupan itu sendiri. Indah dan juga rumit. Kompleks.

Eddward Samadyo Kennedy bukanlah sosok komentator sepakbola yang biasa kita tonton wajahnya di layar stasiun televisi nasional kita. Karena memang masih sulit membayangkan ada komentator bola yang lebih suka mengutip kalimat-kalimat Albert Camus atau Jean Paul Sartre daripada Presiden FIFA atau Jose Mourinho, misalnya.

Continue reading ‘Menafsirkan Sepakbola Bersama Eddward S. Kennedy’


samack

Goodreads


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers