Seorang pria berkulit kuning sedikit pucat memainkan pianika dengan tingkah bak orang kesurupan. Kadang ia memencet tuts secara serampangan, seperti ngawur dan tidak beraturan sehingga banyak mengeluarkan nada-nada minor. Bagi telinga normal, suara-suara itu terdengar cukup ganjil dan tidak biasa. Pianika berubah menjadi instrumen musik yang sama sekali tidak meriangkan, alih-alih merdu. Belum lagi tingkah sang pianis yang tidak bisa diam. Pria ini cuma duduk tenang sebentar, lalu tiba-tiba berdiri dan naik ke atas kursi. Terkadang dia juga melompat, berjalan, atau bahkan mengayunkan pianikanya ke sana ke mari.
Pria yang satu lagi, berkulit sawo matang, diam di sudut yang lain sambil memainkan instrumen musik buatannya sendiri –yang tentu saja alat itu hanya bisa dimainkan olehnya. Bentuk instrumennya itu cukup unik, seperti rebana yang dimodifikasi dengan alat petik dan agak sedikit menyerupai kecapi. Bunyinya agak sulit untuk dijelaskan– aneh, ringkih dan agak menyihir. Sesekali pria itu juga mengisi sampling musik melalui nada-nada elektronik yang cukup ritmik.
Dua orang seniman musik yang menggetarkan teras komunitas Rompok Bolong di Jazz Corner Malang pada hari Rabu malam, 15 Mei lalu, itu adalah Makoto Nomura asal Jepang dan Wukir Suryadi dari Indonesia. Mereka berdua melahirkan bebunyian tradisonal dan modern berbaur jadi satu, saling menyahut bahkan kerap bertabrakan. Di tangan kedua pria ini, musik seperti mampu berdialog dan berbicara lebih banyak melalui medium yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Uneasy listening.
![Wukir Suryadi [left] & Makoto Nomura [right]](http://sesikopipait.files.wordpress.com/2013/05/makoto-wukir.jpg?w=300&h=176)

![photo by norman hs [happipolla photoworks]](http://sesikopipait.files.wordpress.com/2013/05/unda-undi-_-release-party1.jpg?w=300&h=199)



